• INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 7, 2025
  • 0 Comments
ASN DKI dan “Alergi” terhadap Lulusan STPDN

INDOPOS Oleh: Agung Nugroho, Direktur Jakarta Institute Fenomena ketidaksukaan ASN DKI terhadap pemimpin berlatar STPDN tak bisa dilepaskan dari aroma politik kekuasaan yang makin kental setiap menjelang Pilgub DKI. Dalam birokrasi, setiap penempatan pejabat tinggi selalu dibaca bukan sekadar rotasi administrasi, tetapi juga sinyal politik. Maka ketika beredar kabar bahwa sejumlah figur potensial di lingkar kekuasaan nasional — termasuk yang berlatar STPDN — tengah disiapkan menempati posisi strategis di Pemprov DKI, wajar bila muncul kegelisahan di kalangan aparatur. Mereka khawatir Jakarta akan kembali dikelola dengan gaya komando yang tak cocok dengan kultur birokrasi urban. Bagi banyak ASN DKI, STPDN identik dengan pola kepemimpinan yang dibentuk dari sistem komando, loyalitas mutlak, dan pendekatan hierarkis yang kuat. Itu cocok untuk birokrasi di daerah konservatif atau wilayah dengan kontrol sosial tinggi, tapi terasa canggung di Jakarta — kota yang hidup dari improvisasi, negosiasi, dan kerja cepat. Gaya “komando vertikal” yang terbiasa menunggu perintah dari atas sering kali dianggap memperlambat roda birokrasi kota yang dinamis. Maka, di benak ASN DKI, muncul semacam kekhawatiran: kalau pemimpinnya STPDN, jangan-jangan Jakarta akan kembali ke gaya “satu perintah satu arah, tanpa diskusi.” Situasi ini juga terkait dengan pertarungan simbolik antara dua model birokrasi: teknokrat kota versus birokrat komando. DKI selama ini menjadi etalase reformasi birokrasi nasional — sistemnya paling transparan, teknologinya paling maju, dan pengawasan publiknya paling ketat. Di sisi lain, figur berlatar STPDN sering diasosiasikan dengan jaringan politik yang kuat di pusat kekuasaan. Bila figur seperti ini menempati posisi kunci di DKI, sebagian ASN menilai akan ada arus balik: birokrasi yang tadinya merit-based bisa tergantikan oleh sistem patronase berbasis loyalitas. Karena itu, resistensi ASN sebenarnya bukan semata soal asal sekolah, tapi soal ketakutan akan “sentralisasi gaya baru” di tubuh birokrasi Jakarta. Sebab DKI bukan sekadar provinsi; ia adalah panggung politik nasional. Siapa pun yang memimpin birokrasi di sini otomatis menjadi bagian dari skenario kekuasaan yang lebih besar. Dan ASN yang sudah terbiasa hidup di bawah sorotan media paham betul, di balik setiap penempatan pejabat pasti ada kalkulasi politik. Maka sikap mereka yang tampak “dingin” terhadap figur berlatar STPDN bisa dibaca sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi politisasi birokrasi oleh kekuatan di luar Balai Kota. Jakarta, bagi ASN-nya, adalah simbol otonomi profesional. Mereka ingin tetap dipimpin oleh sosok yang paham dinamika perkotaan, bukan sekadar menjadi perpanjangan tangan kekuasaan pusat. Itulah mengapa ketidaksukaan terhadap figur STPDN muncul bukan karena sentimen pribadi, tapi karena kekhawatiran bahwa birokrasi DKI akan kembali dijadikan alat mobilisasi politik, bukan mesin pelayanan publik. Pada akhirnya, siapa pun yang maju ke DKI nanti — entah dari jalur teknokrat, politikus, atau STPDN — akan dihadapkan pada satu kenyataan: Jakarta bukan daerah biasa, dan ASN-nya bukan bawahan yang mudah diarahkan tanpa logika. Mereka terbiasa berpikir, bukan sekadar melaksanakan. Bila pemimpin datang dengan gaya komando, mereka akan diam tapi tak benar-benar berjalan. Tapi bila datang dengan gaya kolaboratif, mereka akan bekerja tanpa harus diperintah. Dan di situlah perbedaan besar antara memimpin daerah dan memimpin Jakarta. Birokrasi Jakarta tak butuh pemimpin yang gagah dalam apel pagi, tapi yang mampu menyalakan semangat dalam forum diskusi. ASN DKI tidak menolak STPDN, mereka hanya menolak jika Jakarta dijadikan barak.

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 7, 2025
  • 0 Comments
Menkeu Purbaya Dapat Dukungan Poros Muda Betawi untuk Alokasikan Dana Rp 10-20 T Ke Bank Jakarta, Diharapkan Dapat Perkuat Ekonomi Masyarakat

INDOPOS-Sekretaris Jenderal Poros Muda Betawi, Iman Hendri, S.Hi, menyambut baik langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang berencana mengalokasikan dana sebesar Rp10 hingga Rp20 triliun kepada Bank Jakarta. Dana tersebut diharapkan dapat memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di DKI Jakarta, khususnya bagi pelaku usaha lokal dan masyarakat Betawi. Iman Hendri menilai, rencana pemerintah pusat itu merupakan angin segar bagi pelaku UMKM yang selama ini masih menghadapi keterbatasan modal dan akses pembiayaan. Terlebih, keberadaan Bank Jakarta diharapkan mampu menjadi motor penggerak perekonomian lokal melalui penyaluran dana yang tepat sasaran dan berpihak kepada rakyat kecil. “Kami menyambut baik langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Dana tersebut diharapkan benar-benar dimanfaatkan untuk mendorong kemajuan UMKM di Jakarta, terutama UMKM khas Betawi seperti kuliner dan kerajinan tradisional yang selama ini masih kekurangan modal usaha,” ujar Iman Hendri di Jakarta, Selasa (7/10/2025). Ia menegaskan, Poros Muda Betawi siap bersinergi dengan pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mendukung program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurutnya, sektor UMKM khas Betawi memiliki potensi besar untuk berkembang apabila mendapatkan dukungan permodalan dan pembinaan yang berkelanjutan. Lebih lanjut, Iman berharap Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat ekosistem UMKM di Jakarta. Ia menilai, dengan adanya dana besar yang disalurkan ke Bank Jakarta, pemerintah daerah memiliki peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat. “Kami percaya, dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah pusat, Pemprov DKI, dan lembaga keuangan daerah, UMKM Jakarta bisa naik kelas. Ini juga menjadi kesempatan emas untuk mengangkat martabat dan kemandirian ekonomi masyarakat Betawi,” tambahnya. Iman juga menyoroti pentingnya pendampingan dan pelatihan bagi para pelaku usaha kecil agar dana yang disalurkan tidak hanya habis untuk modal awal, tetapi juga dapat dikelola secara produktif dan berkelanjutan. Menurutnya, sektor kuliner, kriya, dan wisata budaya Betawi adalah potensi unggulan yang bisa menjadi ikon ekonomi kreatif Jakarta jika mendapatkan dukungan yang memadai. “UMKM Betawi bukan hanya soal usaha, tapi juga pelestarian budaya. Dengan dukungan dana dan pembinaan yang baik, kita bisa menjaga identitas Betawi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,” tutup Iman Hendri. Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmennya memperkuat sektor UMKM dan industri lokal — termasuk kuliner khas Betawi — melalui suntikan dana ke Bank Jakarta. Menteri Keuangan yang dikenal senang makan di warung UMKM di Jakarta ini menilai, sektor usaha kecil memiliki potensi besar dalam mendorong jalannya perekonomian Indonesia. “UMKM semestinya juga mendapat perhatian. Jangan sampai mereka kalah bersaing hanya karena minim modal,” kata Purbaya usai bertemu Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota DKI. Purbaya menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Pramono untuk memastikan kesiapan Bank Jakarta dalam menyalurkan dana tersebut. “Saya tanya tadi ke Pak Gubernur, apakah Bank Jakarta bisa nyerap? Jangan sampai saya kasih duit, panik terusnya. Waduh, nggak bisa nyalurin. Kata Pak Gubernur bisa,” ujarnya berseloroh. Ia menambahkan, jika dana Rp10–20 triliun itu tersalurkan dengan baik, dampaknya terhadap perekonomian lokal akan sangat besar. “Dana sebesar itu bisa menyebar ke UMKM dan industri lain, tidak hanya di Jakarta tetapi juga ke daerah sekitar,” katanya. Selain suntikan ke Bank Jakarta, Purbaya juga membuka peluang bagi BUMD DKI Jakarta untuk memanfaatkan dana Rp200 triliun yang ditempatkan di Bank Himbara (himpunan bank milik negara). (***)

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 7, 2025
  • 0 Comments
SIB Sambut Baik Rencana Menkeu Purbaya Kucurkan Dana Rp 10-20 Triliun untuk Bank Jakarta dan UMKM Betawi Siap Berkolaborasi

INDOPOS–JAKARTA — Ketua Umum Seniman Intelektual Betawi (SIB), Tahyudin Aditya, menyambut baik rencana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang akan mengucurkan dana sebesar Rp10–20 triliun ke Bank Jakarta. Dana tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM), khususnya masyarakat Betawi yang selama ini masih terkendala permodalan. Tahyudin menilai langkah pemerintah pusat ini merupakan angin segar bagi pelaku UMKM lokal. Menurutnya, SIB selama ini aktif berkolaborasi dengan berbagai pelaku usaha Betawi untuk mengembangkan produk dan memperkuat kemandirian ekonomi warga. “Sebagai kota pusat perekonomian dan budaya, Jakarta memang harus mandiri secara ekonomi. Dukungan pemerintah seperti ini sangat penting agar UMKM Betawi bisa naik kelas,” ujar Tahyudin, pada wartawan, Selasa (7/10/2025). Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmennya memperkuat sektor UMKM dan industri lokal — termasuk kuliner khas Betawi — melalui suntikan dana ke Bank Jakarta. Menteri Keuangan yang dikenal senang makan di warung UMKM di Jakarta ini menilai, sektor usaha kecil memiliki potensi besar dalam mendorong jalannya perekonomian Indonesia. “UMKM semestinya juga mendapat perhatian. Jangan sampai mereka kalah bersaing hanya karena minim modal,” kata Purbaya usai bertemu Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota DKI. Purbaya menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Pramono untuk memastikan kesiapan Bank Jakarta dalam menyalurkan dana tersebut. “Saya tanya tadi ke Pak Gubernur, apakah Bank Jakarta bisa nyerap? Jangan sampai saya kasih duit, panik terusnya. Waduh, nggak bisa nyalurin. Kata Pak Gubernur bisa,” ujarnya berseloroh. Ia menambahkan, jika dana Rp10–20 triliun itu tersalurkan dengan baik, dampaknya terhadap perekonomian lokal akan sangat besar. “Dana sebesar itu bisa menyebar ke UMKM dan industri lain, tidak hanya di Jakarta tetapi juga ke daerah sekitar,” katanya. Selain suntikan ke Bank Jakarta, Purbaya juga membuka peluang bagi BUMD DKI Jakarta untuk memanfaatkan dana Rp200 triliun yang ditempatkan di Bank Himbara (himpunan bank milik negara). (***)

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 7, 2025
  • 0 Comments
Presiden Prabowo Perintahkan Cak Imin Benahi Seluruh Ponpes, Tragedi Al Khoziny Jangan Terulang

INDOPOS-Presiden RI Prabowo Subianto memerintahkan kepada Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin) untuk memeriksa dan memperbaiki semua pondok pesantren (ponpes) resmi. Perintah ini disampaikan Prabowo saat memanggil sejumlah menteri ke kediaman pribadinya di Jalan Kertanegara, Jakarta, Minggu (5/10/2025) malam, untuk membahas perkembangan berbagai program pemerintah. “Presiden memerintahkan Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, untuk memeriksa sekaligus memperbaiki pondok pesantren resmi yang perlu dicek kekuatan struktur bangunannya,” ujar Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya kepada Kompas.com. Baca juga: Update Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny, Korban Meninggal Jadi 40 Orang Teddy menjelaskan, Prabowo juga meminta Cak Imin memberikan bantuan kepada pemilik pondok pesantren memperhatikan betul proses renovasi atau pembangunan gedung di wilayah mereka. “Serta memberikan bantuan dan menekankan kepada pemilik pondok untuk memperhatikan betul proses renovasi atau pengembangan gedung bila hendak membangun pondoknya,” kata Teddy. Ponpes Al Khoziny roboh Diberitakan, musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, roboh pada Senin (29/9/2025) lalu. HKepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, total 40 jenazah telah ditemukan dari timbunan puing bangunan empat lantai tersebut. Baca juga: Prabowo Pantau Insiden Ponpes Al Khoziny Roboh, Minta Keamanan Bangunan Dievaluasi “Tim SAR gabungan masih terus bekerja siang malam. Alat berat seperti pemecah beton dan eskavator terus dikerahkan untuk menyingkirkan material,” ujar Abdul Muhari dalam siaran pers, Minggu. Hingga Minggu pukul 18.00 WIB, sebanyak 15 jenazah ditemukan dalam sehari, menjadi jumlah terbanyak sejak hari pertama pencarian. “Rabu (1/10) kami temukan 3 jenazah, Kamis 2, Jumat 9, Sabtu 11, dan hari ini 15. Ini menunjukkan upaya tim mulai membuahkan hasil seiring beton yang bisa disingkirkan,” kata dia.

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 4, 2025
  • 0 Comments
Festival Panjat Tebing Outfest 2025 Jadi Wadah Pembentukan Karakter Siswa Jakarta

INDOPOS–JAKARTA – Forum Alumni Sispala Jakarta (FASTA) kembali menggelar Outfest 2025 di Senayan Park, Jakarta. Kegiatan tahunan ini menjadi ajang penguatan karakter dan pengembangan minat bakat bagi siswa SMA, SMK, dan MA, dengan menghadirkan kompetisi panjat tebing dan lomba fotografi. Ketua Panitia Outfest 2025, Yanelis Prasenja, mengatakan kegiatan ini dirancang untuk melatih keterampilan dasar siswa sekaligus menumbuhkan minat di bidang alam bebas. “Peserta panjat tebing didominasi siswa kelas 1 SMA, jadi kami awali dengan coaching clinic selama dua hari. Lomba panjat dinding ini bukan kejuaraan, tapi festival. Tujuannya agar anak-anak bisa belajar teknik, menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus memperkenalkan olahraga panjat tebing,” jelasnya. Prasenja menyebut, animo peserta sangat tinggi. “Awalnya hanya dibatasi 120 orang, tapi yang mendaftar mencapai 132 siswa. Semua berasal dari sekolah di Jakarta, dan tahun ini kami juga mulai membuka undangan terbatas bagi sispala dari luar Jabodetabek,” ujarnya. Ketua Dewan Pengarah FASTA DKI Jakarta, Rudi Nurcahyo, menegaskan kegiatan seperti Outfest menjadi ruang belajar penting bagi generasi muda. “Dari festival panjat tebing inilah kita mulai membentuk prestasi, bahkan harapannya lahir atlet dunia dari Indonesia. Tapi yang lebih penting, kegiatan ini adalah tempat belajar leadership. Saat memanjat ada leader, pionir, dan backup—itu semua melatih anak-anak menjadi pemimpin,” ucapnya. Pria yang juga akrab disapa Rudi Becak itu menambahkan, meski jumlah siswa pecinta alam di Jakarta masih relatif kecil, peluang pengembangan sangat besar. “Dari sekitar 504 sekolah dengan 119 ribu siswa, anggota sispala baru sekitar 1 persen. Tantangan kita adalah memperluas gerakan ini. Tahun 2045, saat Indonesia Emas, anak-anak inilah yang akan jadi pemimpin bangsa,” katanya. Apresiasi juga datang dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Eti Suyanti, Ketua Subkelompok Peserta Didik dan Pembangunan Karakter Bidang SMK, Kursus, dan Pelatihan Disdik DKI, menilai Outfest selaras dengan misi pendidikan karakter. “Kami bangga melihat semangat anak-anak. Mereka punya energi luar biasa dan suatu saat akan jadi pemimpin di masa depan. Dinas Pendidikan mendukung kegiatan seperti ini, bukan hanya di bidang pecinta alam, tapi semua yang memperkuat karakter siswa,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya aspek keselamatan. “Setiap kegiatan ada risikonya. Karena itu, panitia dan pendamping harus memberi arahan, melatih fisik siswa, serta menyiapkan mitigasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Itu bagian dari pendidikan karakter juga,” tambahnya. Outfest 2025 menjadi gelaran ketiga FASTA dalam menyelenggarakan festival panjat dinding. Dengan partisipasi yang terus meningkat, kegiatan ini diharapkan menjadi wadah konsisten bagi generasi muda Jakarta untuk tumbuh sebagai pribadi yang tangguh, disiplin, dan berkarakter. (***)

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 3, 2025
  • 0 Comments
Menjelang Musyda KAUMY Jakarta: Mengapa Sandhya Milik Kita Bersama?

INDOPOS-Musyawarah Daerah (Musyda) Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KAUMY) DKI Jakarta bukan sekadar ajang peralihan estafet kepemimpinan, melainkan momentum penting untuk merefleksikan kembali roh organisasi, visi ke depan, dan yang paling utama: semangat kebersamaan. Dalam hiruk pikuk persiapan Musyda, satu pertanyaan filosofis mencuat ke permukaan, menyentuh relung dari ikatan alumni: Mengapa Sandhya milik kita bersama?. Sandhya adalah alumni UMY yang menapak karir di Kota Jakarta dari titik “0”. Sebagai alumni yang telah berproses di Jakarta, Sandhya adalah simbol alumni yang pantang jeri dalam berproses dan fleksibel menyambung tali silaturahmi. Dalam konteks KAUMY, Sandhya bukan hanya gugusan nama, tapi sebuah metafora. Ia melambangkan titik temu (reuni) antara para alumni dengan latar belakang, profesi, dan kiprah yang beragam, semuanya berakar pada almamater yang sama: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ibarat jejaring laba-laba, ia terus berjuang menarik buhul-buhul kesadaran kolektif menjadi sebuah simpul yang utuh. *Sandhya Sebagai Ruang Kolektif, Bukan Ego Sektoral* Pergulatan dalam momentum Musyda, di mana ide dan gagasan kepemimpinan berjumpalitan menjadi platform utama, seringkali berisiko mengaburkan tujuan utama yang luhur dan luhung. Padahal, KAUMY lahir dari semangat kolektivitas. Ini bukan sekadar perkumpulan individu sukses, melainkan wadah potensial untuk bersinergi demi kontribusi yang lebih universal, baik untuk almamater, Muhammadiyah, maupun masyarakat Jakarta. Jika Sandhya dimaknai sebagai milik bersama, maka setiap alumni—mulai dari akademisi, profesional korporat, politisi, hingga aktivis sosial—memiliki hak dan tanggung jawab yang setara. Ia harus menjadi ruang di mana perbedaan pandangan dirayakan, bukan dipertentangkan. Musyda adalah pembuktian bahwa KAUMY Jakarta mampu menjembatani perbedaan ini, memastikan bahwa nakhoda baru yang terpilih adalah representasi dari seluruh alumni, bukan sekadar kelompok tertentu. *Dua Alasan Mengapa Sandhya Adalah “Milik Kita Bersama”* Pertanyaan retoris di judul ini mengandung jawaban fundamental yang harus dipegang teguh oleh seluruh alumni menjelang Musyda: 1. Tanggung Jawab Kontribusi Publik Alumni UMY berada di Jakarta, jantung ibu kota, dengan akses dan peluang yang tak terbatas. “Milik kita bersama” berarti KAUMY tidak boleh menjadi menara gading. Organisasi harus bermetamorfosa menjadi jembatan kontribusi. Kepemimpinan KAUMY Jakarta pasca-Musyda meski fokus pada program nyata yang mampu menggerakkan potensi alumni dalam isu-isu strategis kebangsaan, sesuai dengan khittah Muhammadiyah. 2. Kekuatan Jaringan dan Sinergi Potensi terbesar dari KAUMY adalah jaringannya. Tidak ada satu alumni pun yang mampu berdiri sendiri tanpa dukungan dari jejaring yang kuat dan solid. Jika Sandhya hanya dikuasai satu kelompok, maka daya dobrak jaringannya bersifat segmentif. Sebaliknya, saat Sandhya diakui sebagai wadah sinergi, maka setiap alumni akan terbuka berelaborasi, membentangkan peluang sinergisitas melampaui kutub-kutub kepentingan sektarian. *Harapan Musyda: Soliditas untuk KAUMY Jakarta yang Berkemajuan* Musyda KAUMY Jakarta yang akan diselenggarakan seyogyanya bertumpu pada fatsum mengakhiri semua friksi dan segregasi. Momentum ini idealnya tiba pada puncak mengukuhkan komitmen bersama. Siapa pun yang terpilih menjadi Ketua, mandat utamanya adalah menyatukan kembali narasi “kita” di atas narasi “saya” atau “kelompok.” KAUMY Jakarta membutuhkan kepemimpinan yang progresif, yang mampu memadukan tradisi Muhammadiyah dengan tantangan kekinian. Kepemimpinan yang mampu mengayomi, bukan mendominasi. Kepemimpinan yang menjadikan KAUMY sebagai rumah yang ramah bagi setiap alumni UMY, tanpa kecuali. Pada akhirnya, Sandhya adalah simbol persatuan. Ia adalah amanah kolektif yang tidak boleh jatuh dalam jebakan ego sektoral. Dengan semangat Sandhya Milik Kita Bersama, KAUMY Jakarta diharapkan mampu melahirkan watak kepemimpinan yang solid lewat program kerja yang berkemajuan, mengharumkan nama baik almamater, dan memberikan manfaat nyata bagi aras futuristik generasi kita. Dalam semua itu–engkau dan aku menjadi kita yang melebur dalam KAUMY adalah cita-cita bersama. Bukan kalah dan menang yang dituju, tetapi mendorong bahtera KAUMY untuk terus tumbuh dalam keadaban dan dignity. Itulah yang akan menjadi legasi kita semua. Selamat BerMusyda Profil: Bara Pattyradja, Penyair Indonesia. Lahir di Lamahala, Flores Timur, NTT, 12 April 1983. Bukunya yang telah terbit, Bermual dari Rahim Cinta, Republik Iblis, Samudra Cinta Ikan Paus, Aku adalah Peluru Mahabbah Connie Rahakundini Bakrie, Pacar Gelap Puisi, Geser Dikit Halaman Hatimu, Melukat Liang Luka, Kisah Inspiratif Lestari Moerdijat. Sekarang Bermukim di Jakarta sembari bergiat di Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 3, 2025
  • 0 Comments
BNI Dukung Perayaan 10 Tahun Sociolla, Hadirkan Layanan Perbankan Digital di Event K-Beautyland

INDOPOS-JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menunjukkan komitmennya dalam mendukung industri kecantikan tanah air dengan berpartisipasi pada perayaan 10 tahun Sociolla. BNI menjadi salah satu mitra dalam gelaran Sociolla’s 10th Anniversary: K-Beautyland yang berlangsung pada 1–5 Oktober 2025 di Laguna Atrium, Central Park Mall, Jakarta. Acara ini menghadirkan pengalaman khas Seoul, mulai dari belanja produk kecantikan dari ujung rambut hingga kaki, hingga layanan perawatan premium dari brand K-Beauty ternama. Tercatat sebanyak 35 tenant berpartisipasi, dengan target pengunjung mencapai 50.000 orang per hari. Selama acara, BNI menghadirkan berbagai layanan E-Channel yang dapat diakses nasabah 24 jam. Layanan tersebut meliputi DigiCS BNI untuk pembukaan rekening, ATM CRM (tarik setor tunai), Wondr by BNI, SMS Banking, Internet Banking, BNI Direct, serta BNI Call. “Kami berkomitmen untuk selalu memberikan pelayanan terbaik bagi nasabah kami. Dengan layanan operasional terbatas BNI Central Park selama event berlangsung, kami berharap dapat memudahkan nasabah dalam mengakses layanan perbankan BNI,” ujar Pimpinan Cabang BNI Daan Mogot, Analisa Setiawati. Kehadiran BNI di ajang K-Beautyland ini sekaligus memperkuat sinergi dengan Sociolla dan mendukung perkembangan industri kecantikan serta gaya hidup digital masyarakat Indonesia. (***)

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 3, 2025
  • 0 Comments
Terbongkar! Kios Kosmetik di Jakarta Barat Diduga Jadi Kedok Peredaran Obat Keras Eximer dan Tramadol

INDOPOS-JAKARTA – Jakarta kembali diguncang temuan mencengangkan. Sejumlah kios kosmetik di wilayah Jakarta Barat ternyata diduga menjadi kedok bisnis obat keras berbahaya, termasuk Eximer dan Tramadol, yang dijual bebas tanpa resep dokter. Fenomena ini terungkap setelah investigasi lapangan menunjukkan maraknya peredaran obat daftar G di kawasan Kalideres hingga Cengkareng. Ironisnya, penjualan dilakukan secara terang-terangan seolah kios tersebut hanya menjual kebutuhan sehari-hari. Kios kecil berukuran 3×1,5 meter yang tampak sederhana dari luar ternyata memiliki aktivitas mencurigakan. Warga menyebut kios itu sebagai “Warung Aceh”, tempat orang-orang datang bukan untuk membeli kosmetik, melainkan obat keras. “Kalau sudah kenal, cukup sebut kode saja. Misalnya ‘TM selem’ untuk Tramadol atau ‘kuning’ untuk Eximer,” ujar TP, salah satu pembeli yang ditemui di sekitar lokasi. Kode rahasia itu menjadi pintu transaksi antara pembeli dan penjual. Begitu kode disampaikan, obat langsung diberikan, pembayaran dilakukan cepat, dan pembeli berlalu seakan baru membeli permen di warung biasa. Penelusuran lebih jauh mengungkap bahwa praktik serupa tidak hanya ada di satu titik. Setidaknya belasan kios diduga beroperasi dengan modus sama di sekitar Terminal Kalideres, Stasiun Kalideres, Pasar Hipli Semanan, hingga perkampungan padat di Cengkareng. Setiap kios memiliki pola identik: bagian depan menjual kosmetik, minuman ringan, hingga tisu. Namun di balik etalase, tersimpan stok obat keras yang siap diperjualbelikan dengan sistem kode. Aktivitas semakin ramai menjelang sore dan malam hari. Saat pengawasan longgar, pembeli dari berbagai kalangan silih berganti berdatangan. Ada remaja, sopir angkot, pengamen, hingga pria dewasa. Mengkhawatirkan, bahkan siswa berseragam sekolah terlihat ikut membeli obat keras tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak serius bagi generasi muda di Jakarta Barat. “Kalau kios A tutup, ada kios B atau C. Para pembeli sudah tahu tempatnya. Kalau tidak tahu kode, tidak akan dilayani,” lanjut TP. Fenomena ini seakan membentuk jaringan tersembunyi yang terorganisir rapi. Mereka saling menggantikan, memastikan peredaran tetap berjalan meski satu titik terpantau aparat. Bagi masyarakat sekitar, keberadaan kios obat keras berkedok kosmetik bukan lagi rahasia. Namun, ketakutan untuk melapor membuat bisnis ini terus berjalan tanpa hambatan. Hasil investigasi juga menemukan bahwa para penjual kerap menggunakan anak buah untuk melayani pembeli. Cara ini dipakai untuk mengurangi risiko jika ada penggerebekan. Polsek Kalideres yang dikonfirmasi mengaku baru menerima laporan terkait aktivitas tersebut. “Terima kasih laporannya. Tapi kita baru tahu ada hal itu,” kata seorang petugas kepada wartawan, Kamis (2/10). Pernyataan itu menunjukkan lemahnya pengawasan di tingkat aparat, padahal peredaran obat keras tanpa izin bisa menimbulkan dampak sosial yang merusak. Kasus ini menjadi peringatan serius bahwa perang melawan narkoba dan obat keras tidak cukup hanya dengan razia sesaat. Diperlukan strategi komprehensif dan berkelanjutan. Pengawasan izin usaha, pemutusan rantai distribusi, hingga edukasi ke masyarakat harus berjalan bersamaan. Tanpa itu, jaringan kios obat keras akan terus tumbuh subur. Apalagi dengan kedok kosmetik yang mudah menyamarkan aktivitas ilegal, para pelaku bisa leluasa mengelabui aparat dan masyarakat. Pemerintah dan aparat penegak hukum tidak bisa lagi menutup mata. Jika dibiarkan, Jakarta Barat berisiko menjadi episentrum peredaran obat keras di ibu kota. Selama kios-kios berkedok kosmetik ini dibiarkan beroperasi, harapan Jakarta bebas narkoba hanya akan menjadi ilusi semu. Kini semua mata tertuju pada Polres Metro Jakarta Barat. Publik menunggu langkah nyata, cepat, dan tegas untuk menghentikan peredaran obat keras yang kian merajalela. (***)

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 3, 2025
  • 0 Comments
Prabowo Ucapkan Selamat Ultah ke Gibran dengan Foto Hitam Putih, Netizen Heboh

INDOPOS-Presiden Joko Widodo Prabowo Subianto mengucapkan selamat ulang tahun ke-38 untuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan cara sederhana. Warga net ramai mengomentarinya. Hanya lewat satu foto hitam putih di Instagram tanpa emoji, tag, maupun kebersamaan, unggahan itu langsung menuai beragam reaksi publik. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ucapan ulang tahun kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan cara tak biasa. Melalui akun Instagram resmi @presidenrepublikindonesia, Rabu (1/10/2025) malam, ia hanya menulis pesan singkat disertai satu foto hitam putih. “Selamat ulang tahun Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka,” tulis Prabowo dalam caption. Baca juga: Gibran Kuliah di Singapura tapi Dapat Ijazah dari Kampus Asal Inggris, Begini Penjelasan MDIS Foto tersebut menampilkan Gibran seorang diri mengenakan jas formal. Tanpa emoji, tanpa tag akun, dan tanpa momen kebersamaan. Respons publik pun beragam. Dalam dua jam sejak diunggah, postingan tersebut sudah mengumpulkan lebih dari 58 ribu likes dan ribuan komentar, mulai dari doa panjang hingga sindiran soal janji kampanye. Sebagian netizen menyampaikan doa dan pujian: “Selamat ulang tahun mas Gibran, Gibran datang membawa cinta, kedamaian, salut sama perjalanan hidupnya, mental pejuang,” tulis akun @syahputra17. “Wishing you a blessed birthday, Our Vice President ❤️,” tulis akun @alkitabsatumenit. Namun, tak sedikit pula yang menyelipkan sindiran, terutama soal janji kampanye Pilpres 2024 tentang pembukaan 19 juta lapangan kerja: Sementara itu, pantauan Tribunnews pada Rabu malam menunjukkan bahwa akun resmi Gibran @gibran_rakabuming tidak menampilkan unggahan foto maupun video terkait ulang tahunnya yang ke-38.

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 1, 2025
  • 0 Comments
Keputusan Mendikbudristek Nomor 63/M/KEP/2025 Tabrak UU dan Bikin Gaduh Dunia Pendidikan, Dua Guru Besar Ajukan Judicial Review Ke MA

INDOPOS-Jakarta, 30 September 2025 – Dua guru besar Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara), Prof. Dr. M.S. Tumanggor, S.H., M.Si. dan Prof. Dr. St. Laksanto Utomo, S.H., M.Hum., dengan dukungan 60 lebih guru besar di Indonesia, resmi mengajukan permohonan Hak Uji Materiil (Judicial Review) terhadap Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 63/M/KEP/2025 tentang Petunjuk Teknis Layanan Pembinaan dan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen. Permohonan judicial review tersebut diajukan pada 15 Agustus 2025 dan telah teregistrasi di Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan Nomor Perkara 41 P/HUM/2025 pada 19 Agustus 2025 melalui Kepaniteraan Muda Tata Usaha Negara. Kedua pemohon menilai keputusan menteri tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, khususnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. “Judicial review ini diajukan untuk memastikan agar setiap kebijakan di bidang pendidikan tinggi tetap sesuai dengan kerangka hukum nasional, serta selaras dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan yang berkeadilan, profesional, dan berkelanjutan,” tegas Prof. Tumanggor didampingi Prof. Laksanto, beserta tim hukum, Nelson Kapoyos, dan Baiqumi Aji, dalam konferensi pers, Rabu (1/10/2025). Pengajuan uji materi ini sekaligus menjadi bentuk kritik akademisi terhadap regulasi yang dinilai berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dalam pengembangan profesi dan karier dosen di Indonesia. Kepmen ini dinilai menimbulkan keresahan dan kehaduhan di dunia akademik. Sehingga, harus segera diselesaikan. “Keputusan menteri itu harus dicabut, karena jelas-jelas diskriminatif dan menabrak undang-undang,” tegasnya. SKEMA PENGAJUAN KEBERATAN HAK UJI MATERIIL MENTERI PENDIDIKAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63/M/KEP/2025 Alur Utama 1. KEPMEN 63/2025 → Menghapus NIDK/NIDN menjadi Dosen Tetap Non-Tetap → Diskriminasi/Administratif Jabatan Akademik 2. Bertentangan dengan UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 40 ayat (1) Pasal 41 ayat (1) Pasal 51 ayat (1) Bertentangan dengan UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 3. SK No. 59/P/2025/UBJ tentang Pengangkatan Prof. Dr. Anwar Borahima, S.H., M.Hum. Sebagai Ketua Tim Advokasi Hukum dan Lingkungan SK No. 31/KM/2025/UBJ tentang Pengangkatan Prof. Dr. Ir. H. Eddy S. Soeryanto Soegoto, M.Sc., M.M. Sebagai Ketua Dewan Pakar Tim Advokasi Hukum dan Lingkungan SK No. 31/KM/2025/UBJ tentang Pengangkatan Dr. (C) Bayu Seto Hardjowahono, S.H., M.H., M.M. Sebagai Sekretaris Tim Advokasi Hukum dan Lingkungan Upaya Keberatan Hak Uji Materiil Diajukan ke Mahkamah Agung RI tanggal 15 Agustus 2025 Amicus Curiae (Para Guru Besar) Petitum 1. Kepmen bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku. 2. Menyatakan Kepmen 63 tidak berlaku secara hukum. 3. Menerima Hak Uji Materiil. 4. Mencabut Kepmen 63. Substansi Permasalahan Menimbulkan ketidakadilan substantif dengan mengebiri hak Guru Besar (berstatus non-dosen tetap) untuk memperoleh haknya dalam jabatan akademik. Jabatan akademik yang seharusnya bersifat universal bagi semua Guru Besar kini dipersempit dan dibatasi oleh norma dalam Kepmen 63. Secara formal, norma ini tidak sah karena bertentangan dengan UU. Mahkamah Agung diminta untuk membatalkan Kepmen 63.