• INDOPOSINDOPOS
  • April 10, 2026
  • 0 Comments
Tacit Deal Antara AS dan Iran: Decoy, Klaim Kemenangan, Realitas Rapuh, dan Siapa yang Tertipu Lagi?

INDOPOS“Perang berhenti bukan karena kemauan politik, tapi karena kepentingannya sudah selesai.” Back channel yang dirancang oleh AS dan Iran pada akhirnya sementara efektif menemukan escape hatch satu jam menjelang ultimatum tiba. Retorika ekstrem dan dentuman rudal disertai kilatan api di langit Timur Tengah merupakan teater unjuk kekuatan mengamankan eksistensi kekuasaan di mata rakyatnya, di depan sekutu dan lawan ideologi nya sekaligus merasionalisasi pengambilan keputusan demi kepentingan jangka pendek. Kecuali Israel, walau namanya dicantumkan bagian dari kesepakatan ceasefire namun Netanyahu tegas menyatakan Lebanon tidak termasuk. Ia akan terus melanjutkan perang dan dekapitasi kepada musuh-musuhnya sampai keadaan semuanya implode. Empat puluh hari perang dengan intensitas tinggi yang eskalatif, merusak, menghancurkan, namun terkontrol memberi perspektif bahwa ceasefire yang terjadi saat ini hanya penundaan dari perang yang lebih besar dan berbahaya di masa depan—bagaimana Iran menerima untuk stop membantu proxy yang intinya sama dengan disarmament proxy dan memutilasi kekuasaannya sendiri. Pasca 28 Februari 2026 dunia sudah tidak sama lagi dan Iran sudah berbeda. Iran telah menunjukkan kepada dunia khususnya negara-negara Teluk kekuatan militer dan keteguhannya di medan perang. Iran akan jauh lebih kuat, militan, dan membara bila menyangkut kedaulatan dan eksistensi rejim. Iran memberi pesan kuat kepada GCC untuk tidak memandang sebelah mata walau ada AS disamping mereka. Tacit deal yang diprakarsai quadrilateral pimpinan Pakistan semakin menjustifikasi lemahnya fungsi institusi formal internasional menengahi konflik yang melibatkan negara adikuasa. Walau mereka hanya menjadi pembawa pesan tanpa memiliki otoritas kuat melebihi negara yang berkonflik tapi mereka dipakai menjadi kanal oleh AS dan Iran. High Level Chess: Decoy oleh AS dan Iran Perang selama 40 hari dengan retorika ekstrem, serangan masif tapi tidak all-out. Ini persis seperti yang ada di dalam literatur disebut calibrated escalation—eskalasi yang sengaja diatur agar tidak lepas liar. Tujuannya bukan menghancurkan total lawan tapi mengubah perilaku lawan. Trump dalam perang ini melakukan ilusi tekanan maksimum dengan mengancam, tapi tidak langsung eksekusi. Menurut lembaga pemikir RAND, strategi yang dilakukan oleh Trump disebut threat inflation, ancaman lebih besar dari niat nyata yang bertujuan memaksa Iran masuk negosiasi. Trump mengumbar ancaman meledakkan power plant, kilang minyak, jembatan sebagai langkah terakhir sebelum chaos menjadi zaman batu. Di saat bersamaan Trump melakukan pembatasan kontrol dengan tidak melakukan invasi darat dan membuat Iran total kolaps. Menurut think thank AS CSIS ini disebut dominasi eskalasi tanpa eksekusi eskalasi total—tidak melewati red line Di sisi Iran dengan keteguhan, keberanian, dan ideologi kematian untuk berjuang di bawah panji Velayat-e Faqih, para pejuang di semua lini yang dipimpin oleh IRGC di tengah mode perang melakukan teater perlawanan strategis dengan membuktikan dirinya di tengah ancaman dekapitasi para pemimpinnya tetap melakukan komunikasi eskalasi kawasan dan dunia. Hormuz menjadi kekuatan leverage Iran mengancam langsung jantung pertahanan ekonomi AS dan dunia. Iran menutup Hormuz tapi tidak full. Mengaktifkan proxy tapi tidak all-out. Iran selalu menunggu preseden sebelum menyerang sebagai strategi bukan ia yang memulai perang. Banyak analis menyebut signaling through violence yang bertujuan memberi pesan: kami kuat, tidak bisa dipaksa, punya leverage global Karena bukan Iran yang memulai perang, maka ia juga melakukan kontrol chaos dengan dua tujuan menciptakan ketidakpastian dan menjaga tidak sampai pada kehancuran total—managed instability Iran secara retorika menolak semua negosiasi tapi sedang menjalankan sebuah kalkulasi yang sangat sophisticated: Iran menggunakan proxy sebagai decoy layer yang memungkinkannya meningkatkan eskalasi tapi tetap memiliki deniability. Membiarkan Poros Perlawanan Hizbullah dan Houthi beroperasi pada level yang cukup untuk mempertahankan leverage tanpa berlebihan dan tidak terkontrol. AS dan Iran melakukan strategi decoy yang sama dengan cara berbeda. AS melakukan ancaman maksimum dengan eksekusi minimum. Sedangkan Iran melakukan eskalasi nyata tapi terbatas. Hasilnya ilusi bersama tentang eskalasi. Klaim Kemenangan yang Sangat Berbahaya Kemenangan yang diklaim terlalu cepat justru membuat perdamaian hampir mustahil, mengapa? Karena semua tidak ada yang mau mundur, tidak ada yang mau kalah, dan semua merasa benar. Maka medan konflik yang masih membara ditinggalkan hanya menunggu waktu terbakar hebat kembali—apalagi Israel dari sikap dan tindakan menunjukkan perang belum selesai pada target yang ingin dicapai. Kenapa klaim kemenangan jadi sangat berbahaya? Para pihak tidak ada yang terlihat lemah dan tunduk sehingga ruang kompromi menyempit drastis— RAND menyebut succes narrative trap. AS atau Iran merasa overconfidence yang dapat mengakibatkan miskalkulasi terhadap keadaan. Bias menerima informasi intelijen tidak valid dan salah menganalisis yang disebabkan menggunakan pendekatan mirror imaging. Tekanan domestik pun dapat meningkat karena terbuai ilusi kemenangan sehingga publik menginginkan hasil nyata ditambah glorifikasi propaganda elite yang terus memanipulasi keadaan. Fakta realitas perang yang dikaburkan ini membentuk memori kolektif publik bahwa perang sudah selesai—false sense of resolution menggunakan istilah…

Umat Islam Harus Jadi Pelopor Perdamaian, Persatuan, dan Solusi yang Menyejukkan di Tengah Ketegangan Geopolitik

Penulis: Andi Anzhar Cakra Wijaya Wakil Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI Pusat) Bidang Politik, Hukum dan Hubungan Luar Negeri Konflik di Timur Tengah harus dilihat sebagai tragedi kemanusiaan yang membutuhkan empati global tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun politik. Kondisi ini mengakibatkan keprihatinan anak bangsa, termasuk Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Harapan perdamaian berkelanjutan sangat dinantikan semua pihak. Semua pihak hendaknya menempuh jalan damai melalui dialog konstruktif dan penghentian kekerasan demi masa depan generasi berikutnya. Pada momen seperti ini, peran umat Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin sangat dinantikan seluruh komponen bangsa di dunia dan semesta alam. Umat Islam diharapkan menjadi pelopor perdamaian, persatuan, dan solusi yang menyejukkan, sesuai nilai-nilai Islam yang membawa rahmat untuk seluruh alam. Dukungan terhadap upaya diplomasi internasional sangat diperlukan tentunya. Penulis mengapresiasi segala bentuk mediasi dan diplomasi internasional yang bertujuan menghentikan konflik dan menciptakan stabilitas kawasan. Indonesia sebagai salah satu negara pendiri dan anggota aktif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sejak 1969, yang bertujuan meningkatkan solidaritas antarnegara muslim, mendukung kemerdekaan Palestina, serta mendorong kerjasama ekonomi sangat dinantikan kiprahnya. Indonesia aktif dalam KTT Luar Biasa OKI, khususnya dalam mendesak penyelesaian konflik di Gaza dan memajukan perdagangan non-migas. Pada April 2026 ini, seharusnya konferensi KTT OKI digelar. Tetapi, ditunda mengingat kondisi geogolitik yang belum stabil. OKI sendiri merupakan organisasi antar-pemerintah terbesar kedua setelah PBB dengan 57 anggota. Dan, Indonesia berperan dalam mengedepankan solidaritas umat Islam serta ketertiban dunia. Pada momen saat ini, kiprah Indonesia sebagai salah satu negara pendiri dan anggota OKI sangatlah dinantikan dalam mewujudkan perdamaian dunia. Wabilkhusus, negara-negara Islam di dunia.