INDOPOS“Perang berhenti bukan karena kemauan politik, tapi karena kepentingannya sudah selesai.”
Back channel yang dirancang oleh AS dan Iran pada akhirnya sementara efektif menemukan escape hatch satu jam menjelang ultimatum tiba. Retorika ekstrem dan dentuman rudal disertai kilatan api di langit Timur Tengah merupakan teater unjuk kekuatan mengamankan eksistensi kekuasaan di mata rakyatnya, di depan sekutu dan lawan ideologi nya sekaligus merasionalisasi pengambilan keputusan demi kepentingan jangka pendek. Kecuali Israel, walau namanya dicantumkan bagian dari kesepakatan ceasefire namun Netanyahu tegas menyatakan Lebanon tidak termasuk. Ia akan terus melanjutkan perang dan dekapitasi kepada musuh-musuhnya sampai keadaan semuanya implode.
Empat puluh hari perang dengan intensitas tinggi yang eskalatif, merusak, menghancurkan, namun terkontrol memberi perspektif bahwa ceasefire yang terjadi saat ini hanya penundaan dari perang yang lebih besar dan berbahaya di masa depan—bagaimana Iran menerima untuk stop membantu proxy yang intinya sama dengan disarmament proxy dan memutilasi kekuasaannya sendiri.
Pasca 28 Februari 2026 dunia sudah tidak sama lagi dan Iran sudah berbeda. Iran telah menunjukkan kepada dunia khususnya negara-negara Teluk kekuatan militer dan keteguhannya di medan perang. Iran akan jauh lebih kuat, militan, dan membara bila menyangkut kedaulatan dan eksistensi rejim. Iran memberi pesan kuat kepada GCC untuk tidak memandang sebelah mata walau ada AS disamping mereka.
Tacit deal yang diprakarsai quadrilateral pimpinan Pakistan semakin menjustifikasi lemahnya fungsi institusi formal internasional menengahi konflik yang melibatkan negara adikuasa. Walau mereka hanya menjadi pembawa pesan tanpa memiliki otoritas kuat melebihi negara yang berkonflik tapi mereka dipakai menjadi kanal oleh AS dan Iran.
High Level Chess: Decoy oleh AS dan Iran
Perang selama 40 hari dengan retorika ekstrem, serangan masif tapi tidak all-out. Ini persis seperti yang ada di dalam literatur disebut calibrated escalation—eskalasi yang sengaja diatur agar tidak lepas liar. Tujuannya bukan menghancurkan total lawan tapi mengubah perilaku lawan.
Trump dalam perang ini melakukan ilusi tekanan maksimum dengan mengancam, tapi tidak langsung eksekusi. Menurut lembaga pemikir RAND, strategi yang dilakukan oleh Trump disebut threat inflation, ancaman lebih besar dari niat nyata yang bertujuan memaksa Iran masuk negosiasi. Trump mengumbar ancaman meledakkan power plant, kilang minyak, jembatan sebagai langkah terakhir sebelum chaos menjadi zaman batu.
Di saat bersamaan Trump melakukan pembatasan kontrol dengan tidak melakukan invasi darat dan membuat Iran total kolaps. Menurut think thank AS CSIS ini disebut dominasi eskalasi tanpa eksekusi eskalasi total—tidak melewati red line
Di sisi Iran dengan keteguhan, keberanian, dan ideologi kematian untuk berjuang di bawah panji Velayat-e Faqih, para pejuang di semua lini yang dipimpin oleh IRGC di tengah mode perang melakukan teater perlawanan strategis dengan membuktikan dirinya di tengah ancaman dekapitasi para pemimpinnya tetap melakukan komunikasi eskalasi kawasan dan dunia. Hormuz menjadi kekuatan leverage Iran mengancam langsung jantung pertahanan ekonomi AS dan dunia.
Iran menutup Hormuz tapi tidak full. Mengaktifkan proxy tapi tidak all-out. Iran selalu menunggu preseden sebelum menyerang sebagai strategi bukan ia yang memulai perang. Banyak analis menyebut signaling through violence yang bertujuan memberi pesan: kami kuat, tidak bisa dipaksa, punya leverage global
Karena bukan Iran yang memulai perang, maka ia juga melakukan kontrol chaos dengan dua tujuan menciptakan ketidakpastian dan menjaga tidak sampai pada kehancuran total—managed instability
Iran secara retorika menolak semua negosiasi tapi sedang menjalankan sebuah kalkulasi yang sangat sophisticated: Iran menggunakan proxy sebagai decoy layer yang memungkinkannya meningkatkan eskalasi tapi tetap memiliki deniability. Membiarkan Poros Perlawanan Hizbullah dan Houthi beroperasi pada level yang cukup untuk mempertahankan leverage tanpa berlebihan dan tidak terkontrol.
AS dan Iran melakukan strategi decoy yang sama dengan cara berbeda. AS melakukan ancaman maksimum dengan eksekusi minimum. Sedangkan Iran melakukan eskalasi nyata tapi terbatas. Hasilnya ilusi bersama tentang eskalasi.
Klaim Kemenangan yang Sangat Berbahaya
Kemenangan yang diklaim terlalu cepat justru membuat perdamaian hampir mustahil, mengapa? Karena semua tidak ada yang mau mundur, tidak ada yang mau kalah, dan semua merasa benar. Maka medan konflik yang masih membara ditinggalkan hanya menunggu waktu terbakar hebat kembali—apalagi Israel dari sikap dan tindakan menunjukkan perang belum selesai pada target yang ingin dicapai.
Kenapa klaim kemenangan jadi sangat berbahaya? Para pihak tidak ada yang terlihat lemah dan tunduk sehingga ruang kompromi menyempit drastis— RAND menyebut succes narrative trap. AS atau Iran merasa overconfidence yang dapat mengakibatkan miskalkulasi terhadap keadaan. Bias menerima informasi intelijen tidak valid dan salah menganalisis yang disebabkan menggunakan pendekatan mirror imaging.
Tekanan domestik pun dapat meningkat karena terbuai ilusi kemenangan sehingga publik menginginkan hasil nyata ditambah glorifikasi propaganda elite yang terus memanipulasi keadaan. Fakta realitas perang yang dikaburkan ini membentuk memori kolektif publik bahwa perang sudah selesai—false sense of resolution menggunakan istilah Brookings Institution.
Realitas Rapuh dan Tidak Ada Kepercayaan
Ceasefire dua minggu ini berdiri di atas fondasi paling lemah dalam sejarah diplomasi modern: tidak ada satu pihak pun yang mempercayai pihak lain. Iran menyatakannya secara eksplisit melalui duta besarnya di Jenewa — “kami tidak menaruh kepercayaan apapun pada pihak lain.” AS dan Iran telah dua kali memulai pembicaraan serius lalu saling menyerang di tengah proses — Juni 2025 dan Februari 2026. Preseden pengkhianatan berulang ini bukan sekadar trauma diplomatik; ia telah menjadi doktrin operasional: jangan percaya, verifikasi setiap langkah, pertahankan kapasitas menyerang kapan saja.
Hormuz secara teknis “terbuka” tapi Iran mempertahankan kontrol de facto atas siapa yang boleh melewatinya. Uranium Iran masih ada. Kedua pihak memiliki klaim saling bertentangan tentang apa yang sebenarnya disepakati — AS menyangkal Iran berhak melanjutkan enrichment, sementara IRGC mengklaim sebaliknya. Lebanon masih membara sementara Pakistan sudah meregangkan kreditnya dengan mengklaim Lebanon termasuk ceasefire — klaim yang langsung dibantah Netanyahu dan Trump. Setiap jam yang berlalu tanpa kejelasan adalah jam yang menambah lapisan kecurigaan baru.
Siapa yang Tertipu Lagi?
Trump mengklaim kemenangan karena Hormuz “dibuka” — tapi Hormuz dibuka dalam kondisi Iran tetap mengontrolnya. AS tidak mendapatkan satupun dari tiga tujuan strategis awalnya: rezim Iran tidak runtuh, program nuklir tidak dimusnahkan total, dan Hormuz tidak kembali menjadi jalur bebas internasional. Yang didapat AS adalah jeda — bukan kemenangan.
Yang paling pahit adalah pengkhianatan Trump terhadap jutaan demonstran Iran. Pada Desember 2025 dan Januari 2026, gelombang protes terbesar sejak Revolusi 1979 mengguncang Iran — lebih dari 5 juta turun ke jalan, ribuan tewas dalam penumpasan IRGC. Trump memberi harapan eksplisit kepada para demonstran dan diaspora Iran global bahwa perang ini adalah jalan menuju pergantian rezim. Mereka percaya. Mereka menunggu. Beberapa bahkan secara aktif membantu intelijen AS. Namun ketika tiba saatnya Trump memilih antara melanjutkan tekanan demi rezim runtuh atau mengamankan approval rating domestik yang sudah di angka 31% — ia memilih dirinya sendiri. Ceasefire ini bukan hanya pengkhianatan diplomatik; ia adalah pengkhianatan moral terhadap rakyat Iran yang mempertaruhkan nyawa atas dasar janji yang tidak pernah dimaksudkan untuk ditepati.
Iran mengklaim kemenangan karena “memaksa AS menerima 10-point plan sebagai basis negosiasi” — tapi sanksi belum dicabut, aset beku belum dikembalikan, dan Hezbollah sedang dihancurkan di Lebanon tanpa Iran mampu mencegahnya. Yang didapat Iran adalah legitimasi dokumen — bukan implementasinya.
Lebanon adalah pihak yang paling nyata tertipu. Rakyat yang merayakan ceasefire, memuat barang-barang mereka, mulai perjalanan pulang — hanya untuk berbalik arah ketika Netanyahu meluncurkan Operation Eternal Darkness. 254 nyawa melayang pada hari pertama ceasefire. Lebih dari 1,2 juta pengungsi masih tidak tahu kapan bisa pulang.
Divergensi AS-Israel: Ceasefire yang Digerogoti dari Dalam
Faktor paling destruktif terhadap prospek perdamaian justru datang bukan dari Iran — melainkan dari retakan yang semakin terbuka antara Washington dan Tel Aviv. AS dan Israel memasuki perang ini dengan konvergensi tujuan yang tampak solid: hancurkan nuklir Iran, lemahkan IRGC, buka Hormuz. Namun 40 hari kemudian, divergensi tujuan keduanya telah menjadi jurang yang sulit dijembatani.
Trump ingin keluar dari perang dengan narasi kemenangan yang bisa dijual ke publik domestik dan pasar keuangan. Angka approval rating di 31-35%, harga bensin di atas $4,50 per galon, dan tekanan Kongres soal War Powers Act 60 hari — semuanya mendorong Trump ke arah exit yang cepat, bahkan kalau itu berarti deal yang jauh dari sempurna. Baginya, Islamabad adalah jalan pulang.
Netanyahu memiliki kalkulasi yang berlawanan secara fundamental. Baginya, perang ini adalah window strategis paling langka dalam satu generasi — Iran yang sudah dilemahkan, Hezbollah yang sedang dihancurkan, dan AS yang menyediakan payung udara. Berhenti sekarang berarti membiarkan Iran rebuild, Hezbollah recover, dan ancaman eksistensial kembali dalam 3-5 tahun. CIA menyebut rencana Netanyahu sebagai “farcical” dan Rubio menyebutnya “bullshit” — namun Netanyahu tidak membutuhkan persetujuan mereka untuk terus beroperasi di Lebanon.
Divergensi ini menciptakan dinamika paling berbahaya dalam ceasefire: Israel secara aktif menyabotase kondisi yang diperlukan agar Iran tetap di meja negosiasi. Setiap serangan di Lebanon adalah dalih bagi IRGC untuk menutup Hormuz. Setiap kali Hormuz ditutup, Trump marah kepada Iran — bukan kepada Israel yang memicunya. Lingkaran setan ini tidak memiliki mekanisme resolusi selama AS tidak mau atau tidak mampu menekan Israel secara nyata.
Bagi Iran, divergensi AS-Israel bukan kelemahan yang bisa dieksploitasi — melainkan konfirmasi bahwa AS bukan mitra yang bisa dinegosiasi secara tulus. Kalau Washington tidak bisa mengontrol Tel Aviv, maka jaminan apapun yang diberikan Vance di Islamabad tidak memiliki nilai operasional. Dan tanpa jaminan yang bisa dipercaya, tidak ada deal yang bisa bertahan.
Penutup: Jeda Bukan Perdamaian
Sejarah konflik Timur Tengah mengajarkan satu pelajaran berulang: gencatan senjata yang tidak menyelesaikan struktur konflik yang mendasarinya hanyalah reloading interval — jeda untuk mengisi ulang peluru sebelum putaran berikutnya dimulai.
Islamabad Sabtu 10 April adalah titik infleksi terpenting bukan karena kemungkinan besar menghasilkan perjanjian — melainkan karena untuk pertama kali dalam 40 hari menempatkan manusia di meja yang sama, bukan sekadar pesan melalui tangan ketiga. Namun selama Lebanon masih membara, Hormuz masih diperdebatkan, dan AS tidak bisa atau tidak mau menjawab pertanyaan paling mendasar Iran — siapa yang menjamin bahwa ceasefire tidak akan dikhianati lagi seperti sebelumnya — Islamabad berisiko menjadi sekadar pertunjukan diplomatik.
Yang pasti: dunia pasca-28 Februari 2026 sudah berbeda. Iran yang berperang 40 hari dan tidak runtuh telah mengubah kalkulasi deterrence seluruh kawasan. AS yang empat kali mengancam lalu empat kali menunda telah mengajarkan pelajaran yang tidak bisa dihapus — bahwa ancaman tanpa eksekusi mengikis wibawa lebih cepat dari kekalahan militer itu sendiri.
Pertanyaan yang tersisa bukan siapa yang menang atau kalah. Pertanyaan yang tersisa adalah siapa yang pertama sadar bahwa dalam permainan catur tingkat tinggi ini, tidak ada yang benar-benar memenangkan papan ketika papan itu sendiri terbakar — dan bahwa pion terbesar yang dikorbankan bukan aset militer, bukan kilang minyak, bukan jembatan — melainkan kepercayaan manusia kepada janji kekuasaan.
Penulis: Bernardo Haloho
Direktur Eksekutif Indo-Bri
