INDOPOS-Musyawarah Daerah (Musyda) Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KAUMY) DKI Jakarta bukan sekadar ajang peralihan estafet kepemimpinan, melainkan momentum penting untuk merefleksikan kembali roh organisasi, visi ke depan, dan yang paling utama: semangat kebersamaan. Dalam hiruk pikuk persiapan Musyda, satu pertanyaan filosofis mencuat ke permukaan, menyentuh relung dari ikatan alumni: Mengapa Sandhya milik kita bersama?.

Sandhya adalah alumni UMY yang menapak karir di Kota Jakarta dari titik “0”. Sebagai alumni yang telah berproses di Jakarta, Sandhya adalah simbol alumni yang pantang jeri dalam berproses dan fleksibel menyambung tali silaturahmi.

Dalam konteks KAUMY, Sandhya bukan hanya gugusan nama, tapi sebuah metafora. Ia melambangkan titik temu (reuni) antara para alumni dengan latar belakang, profesi, dan kiprah yang beragam, semuanya berakar pada almamater yang sama: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ibarat jejaring laba-laba, ia terus berjuang menarik buhul-buhul kesadaran kolektif menjadi sebuah simpul yang utuh.

*Sandhya Sebagai Ruang Kolektif, Bukan Ego Sektoral*

Pergulatan dalam momentum Musyda, di mana ide dan gagasan kepemimpinan berjumpalitan menjadi platform utama, seringkali berisiko mengaburkan tujuan utama yang luhur dan luhung. Padahal, KAUMY lahir dari semangat kolektivitas. Ini bukan sekadar perkumpulan individu sukses, melainkan wadah potensial untuk bersinergi demi kontribusi yang lebih universal, baik untuk almamater, Muhammadiyah, maupun masyarakat Jakarta.

Jika Sandhya dimaknai sebagai milik bersama, maka setiap alumni—mulai dari akademisi, profesional korporat, politisi, hingga aktivis sosial—memiliki hak dan tanggung jawab yang setara. Ia harus menjadi ruang di mana perbedaan pandangan dirayakan, bukan dipertentangkan. Musyda adalah pembuktian bahwa KAUMY Jakarta mampu menjembatani perbedaan ini, memastikan bahwa nakhoda baru yang terpilih adalah representasi dari seluruh alumni, bukan sekadar kelompok tertentu.

*Dua Alasan Mengapa Sandhya Adalah “Milik Kita Bersama”*

Pertanyaan retoris di judul ini mengandung jawaban fundamental yang harus dipegang teguh oleh seluruh alumni menjelang Musyda:

1. Tanggung Jawab Kontribusi Publik

Alumni UMY berada di Jakarta, jantung ibu kota, dengan akses dan peluang yang tak terbatas. “Milik kita bersama” berarti KAUMY tidak boleh menjadi menara gading. Organisasi harus bermetamorfosa menjadi jembatan kontribusi. Kepemimpinan KAUMY Jakarta pasca-Musyda meski fokus pada program nyata yang mampu menggerakkan potensi alumni dalam isu-isu strategis kebangsaan, sesuai dengan khittah Muhammadiyah.

2. Kekuatan Jaringan dan Sinergi

Potensi terbesar dari KAUMY adalah jaringannya. Tidak ada satu alumni pun yang mampu berdiri sendiri tanpa dukungan dari jejaring yang kuat dan solid. Jika Sandhya hanya dikuasai satu kelompok, maka daya dobrak jaringannya bersifat segmentif. Sebaliknya, saat Sandhya diakui sebagai wadah sinergi, maka setiap alumni akan terbuka berelaborasi, membentangkan peluang sinergisitas melampaui kutub-kutub kepentingan sektarian.

*Harapan Musyda: Soliditas untuk KAUMY Jakarta yang Berkemajuan*

Musyda KAUMY Jakarta yang akan diselenggarakan seyogyanya bertumpu pada fatsum mengakhiri semua friksi dan segregasi. Momentum ini idealnya tiba pada puncak mengukuhkan komitmen bersama. Siapa pun yang terpilih menjadi Ketua, mandat utamanya adalah menyatukan kembali narasi “kita” di atas narasi “saya” atau “kelompok.”
KAUMY Jakarta membutuhkan kepemimpinan yang progresif, yang mampu memadukan tradisi Muhammadiyah dengan tantangan kekinian. Kepemimpinan yang mampu mengayomi, bukan mendominasi. Kepemimpinan yang menjadikan KAUMY sebagai rumah yang ramah bagi setiap alumni UMY, tanpa kecuali.

Pada akhirnya, Sandhya adalah simbol persatuan. Ia adalah amanah kolektif yang tidak boleh jatuh dalam jebakan ego sektoral. Dengan semangat Sandhya Milik Kita Bersama, KAUMY Jakarta diharapkan mampu melahirkan watak kepemimpinan yang solid lewat program kerja yang berkemajuan, mengharumkan nama baik almamater, dan memberikan manfaat nyata bagi aras futuristik generasi kita.

Dalam semua itu–engkau dan aku menjadi kita yang melebur dalam KAUMY adalah cita-cita bersama. Bukan kalah dan menang yang dituju, tetapi mendorong bahtera KAUMY untuk terus tumbuh dalam keadaban dan dignity. Itulah yang akan menjadi legasi kita semua.

Selamat BerMusyda

Profil:

Bara Pattyradja, Penyair Indonesia. Lahir di Lamahala, Flores Timur, NTT, 12 April 1983. Bukunya yang telah terbit, Bermual dari Rahim Cinta, Republik Iblis, Samudra Cinta Ikan Paus, Aku adalah Peluru Mahabbah Connie Rahakundini Bakrie, Pacar Gelap Puisi, Geser Dikit Halaman Hatimu, Melukat Liang Luka, Kisah Inspiratif Lestari Moerdijat.

Sekarang Bermukim di Jakarta sembari bergiat di Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.