INDOPOS-Kebijakan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai sebagai langkah tepat dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sosial.

Hal tersebut disampaikan oleh mantan Kepala Divisi Pengelolaan Anak Perusahaan dan Proyek-proyek PT Pertamina, Rasyidi HY.

Dia menilai keputusan itu tepat karena dianggap berpihak pada kepentingan masyarakat luas.
Karena keputusan itu memiliki dampak signifikan terhadap pengendalian inflasi.

“Harga minyak di Indonesia saat ini sudah tepat. Dengan tidak menaikkan harga BBM. Dengan begitu pemerintah berhasil mencegah lonjakan inflasi yang bisa berdampak luas,” ujar Rasyidi HY, Minggu (12/4/2026).

Mantan Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI periode 2019-2024 itu menjelaskan, kenaikan harga BBM umumnya akan memicu kenaikan harga barang dan jasa, terutama sektor transportasi dan logistik. Kondisi tersebut pada akhirnya akan menekan daya beli masyarakat.

Selain faktor ekonomi, Ketua Bamusi DKI Jakarta itu juga menyoroti aspek politik dan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Menurutnya, kenaikan harga BBM berpotensi menimbulkan gejolak di berbagai daerah.

“Indonesia terdiri dari banyak pulau, sehingga distribusi sangat bergantung pada transportasi. Jika harga BBM naik, dampaknya akan terasa di seluruh wilayah dan bisa berpotensi memicu ketidakstabilan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai kebijakan ini juga berperan dalam menjaga daya beli masyarakat. Dengan harga BBM yang tetap, masyarakat tidak terbebani oleh kenaikan biaya hidup yang signifikan.

“Kalau harga BBM naik, daya beli masyarakat pasti turun. Ini yang dihindari pemerintah,” tambahnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa kebijakan ini memiliki konsekuensi terhadap beban subsidi negara, terutama di tengah harga minyak mentah dunia yang saat ini berada di atas 100 dolar AS per barel. Jika tren kenaikan berlanjut, tekanan terhadap anggaran negara juga akan meningkat.

Terkait pasokan energi, ia menilai peluang kerja sama dengan negara produsen seperti Rusia dan Nigeria dapat menjadi salah satu solusi strategis.

“Rusia memiliki cadangan minyak besar dan hubungan bilateral dengan Indonesia cukup baik. Ini bisa dimanfaatkan untuk menjaga ketersediaan energi nasional,”ujarnya.

Lebih lanjut, terkait dengan kebijalan menahan harga BBM, Rasyidi HY menegaskan dalam hal ini PT Pertamina hanya menjalankan kebijakan yang ditetapkan pemerintah.”Keputusan ada di pemerintah. Pertamina sebagai operator hanya menjalankan sesuai arahan,” jelasnya.

Secara keseluruhan, ia menilai kebijakan mempertahankan harga BBM saat ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam menjaga stabilitas harga, menghindari gejolak sosial, serta mempertahankan daya beli di tengah ketidakpastian ekonomi global. (***)