Preman Palak Driver Online Dekat Kantor Polisi Pelabuhan Makassar, Warganet Berang, Diduga Ada Setoran
INDOPOS-Makassar – Video aksi premanisme di depan Pelabuhan Makassar kembali memicu gelombang kemarahan publik. Seorang driver ojek online (ojol) menjadi korban pemalakan saat menjemput penumpang pada Jumat malam, 3 April 2026. Lebih ironis lagi, peristiwa itu terjadi hanya beberapa meter dari kantor polisi, namun tidak terlihat adanya tindakan dari aparat. Dalam rekaman yang viral, seorang pria tiba-tiba meminta uang parkir secara paksa kepada driver yang hanya berhenti sebentar. Pelaku bahkan sempat mengancam dan mencoba merampas ponsel milik sang driver. Sudah Sering Terjadi, Preman Seakan Kebal Hukum Menurut warga dan warganet, praktik pemalakan serupa telah berlangsung lama di area pelabuhan. Preman berkedok jukir liar disebut kerap meminta uang kepada siapa pun yang lewat atau menjemput penumpang, terutama pengemudi transportasi online. Mereka menyebut pelaku seolah kebal hukum, meski beroperasi di lokasi yang berdekatan dengan pos dan kantor polisi. Warganet Ramai Mengecam, Pertanyakan Kinerja Polisi Kolom komentar di berbagai platform dipenuhi kecaman. Banyak yang mempertanyakan mengapa aparat terkesan tidak memberikan respons apa pun, padahal kejadian semacam ini sudah diketahui publik. Beberapa komentar warganet yang mencuat: “Dekat kantor polisi tapi preman beraksi bebas. Mau sampai kapan?” “Selalu kejadian di pelabuhan, tapi tidak pernah dibereskan.” “Polisi ke mana? Atau pura-pura tidak tahu?” Lebih jauh, muncul dugaan keras dari warganet mengenai adanya setoran kepada oknum tertentu, sehingga para preman bisa terus beroperasi tanpa takut ditindak. “Kalau bebas begini, pasti ada setoran ke oknum.” “Tidak mungkin berani kalau tidak ada backing.” Masyarakat Desak Tindakan Tegas Warga berharap Polres Pelabuhan Makassar dan otoritas terkait tidak menutup mata atas maraknya premanisme tersebut. Mereka menuntut penertiban serius serta penindakan terhadap siapa pun yang terbukti membekingi para pelaku. Insiden ini menambah panjang daftar kasus premanisme di area pelabuhan, yang terus terulang karena lemahnya pengawasan dan minimnya tindakan nyata.
