Pernyataan Jusuf Kalla Minta Pemerintah Naikkan Harga BBM Tuai Gelombang Kritik Warganet

INDOPOS-Pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) kembali menjadi sorotan publik setelah komentarnya mengenai kebijakan harga BBM viral di media sosial. Dalam unggahan yang ramai dibagikan, JK menilai bahwa kenaikan harga BBM perlu dilakukan demi menjaga beban subsidi dan kesehatan APBN di tengah melonjaknya harga minyak dunia akibat konflik Iran dengan AS–Israel. Menurut JK, ada tiga alasan kuat mengapa harga BBM semestinya dinaikkan, salah satunya untuk mengurangi beban APBN karena subsidi BBM akan mengecil bila harga disesuaikan dengan kondisi internasional. Ia menilai langkah tersebut membuat pemerintah tidak terbebani subsidi yang membengkak. Namun, pernyataan JK justru memicu reaksi keras dari pengguna media sosial. Banyak warganet yang menilai pendapat tersebut tidak peka terhadap kondisi masyarakat. Seorang pengguna menulis, “Pas BBM dinaikkan paling dia juga akan ngomong, kenapa BBM dinaikkan.” Komentar lain bernada lebih keras menyebut bahwa persoalan subsidi bukanlah akar masalah utama, melainkan kebocoran anggaran dan korupsi. “Maaf JK, yang membuat negara ini bangkrut bukan subsidi, tapi koruptor yang korupsi gila-gilaan,” tulis warganet lain. Ada pula yang menilai subsidi justru lebih baik diberikan kepada rakyat ketimbang dikorupsi. “Subsidi membengkak kalau dipakai rakyat Indonesia, itu lebih baik daripada dikorup oleh para koruptor,” tulis pengguna lain. Beberapa komentar bahkan menyinggung sisi pribadi dan memberikan respons kasar, menunjukkan bahwa pernyataan JK kali ini benar-benar memicu emosi sebagian masyarakat. “Provokator tingkat tinggi,” tulis salah satu akun. Gelombang kritik ini menunjukkan bahwa isu harga BBM masih sangat sensitif di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Pemerintah sendiri sebelumnya memastikan tidak akan menaikkan harga BBM untuk mencegah beban tambahan bagi masyarakat, berbeda dengan pandangan yang disampaikan JK. Hingga kini, pernyataan JK tetap menjadi perdebatan hangat di jagat maya, sementara publik menunggu langkah pemerintah berikutnya terkait kebijakan energi nasional.

Presiden Prabowo Pilih Tak Naikkan Harga BBM, Publik Heran JK Justru Sarankan Kenaikan

INDOPOS–Jakarta — Di tengah situasi geopolitik yang memanas akibat perang Iran dengan AS–Israel, pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga BBM. Presiden Prabowo Subianto menegaskan keputusan itu diambil agar rakyat tidak terbebani, meski harga minyak dunia menunjukkan tren kenaikan. Namun pernyataan berbeda justru datang dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), yang menyarankan pemerintah menaikkan harga BBM demi menjaga stabilitas ekonomi. Pandangan JK itu terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial dan langsung memicu gelombang komentar masyarakat. Publik Bertanya-Tanya: “Kenapa Justru Minta BBM Dinaikkan?” Di berbagai platform, warganet mengaku heran dengan posisi JK yang dianggap berseberangan dengan sikap pemerintah. Banyak yang mempertanyakan alasan di balik rekomendasi kenaikan harga di tengah upaya pemerintah menjaga daya beli rakyat. JK: Penyesuaian Harga Perlu untuk Selamatkan APBN Dalam video tersebut, JK menyampaikan bahwa kenaikan harga minyak dunia akibat perang Timur Tengah tidak dapat dihindari dan perlu direspons melalui penyesuaian harga BBM di dalam negeri. “Untuk mengatasi itu, jalan pertama yang baik adalah menyesuaikan harga sesuai harga internasional,” ujar JK. Ia memaparkan tiga alasan utama: Mengurangi subsidi Dengan menaikkan harga BBM, beban subsidi APBN akan berkurang dan fiskal tidak jebol. Menekan konsumsi BBM Menurutnya, harga yang lebih tinggi membuat masyarakat lebih hemat dan mengurangi mobilitas yang tidak mendesak. Pengguna BBM mayoritas adalah kelompok mampu JK menilai mereka yang memiliki mobil pada dasarnya mampu membeli BBM dengan harga lebih mahal, sedangkan pengguna motor akan terdorong untuk lebih efisien. Bandingkan dengan Negara ASEAN JK juga menyebut bahwa penyesuaian harga BBM tidak selalu memicu gejolak sosial, mencontohkan Thailand, Malaysia, dan Vietnam yang relatif stabil meski melakukan penyesuaian harga sesuai pasar. “Masyarakat memahami bahwa kenaikan harga minyak dunia merupakan faktor eksternal yang tidak bisa dihindari,” katanya. Kontras dengan Kebijakan Pemerintah Saat Ini Di sisi lain, Presiden Prabowo memilih menahan harga BBM karena kondisi fiskal dinilai masih mampu menanggung tekanan. Pemerintah juga meyakini bahwa stabilitas sosial dan daya beli masyarakat lebih prioritas di tengah tensi geopolitik global. Reaksi Publik: Sikap JK Dinilai ‘Aneh’ Warganet menilai pernyataan JK bertolak belakang dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Beberapa komentar menyoroti bahwa kenaikan harga BBM justru berpotensi memicu efek domino pada harga kebutuhan pokok. Meski begitu, sebagian lain melihat pernyataan JK sebagai pandangan ekonomis yang mempertimbangkan keberlanjutan APBN.

Prabowo Bertemu Presiden Lee Jae Myung

INDOPOS–Presiden Prabowo Subianto tiba di Seoul, Republik Korea Selatan. Prabowo dijadwalkan bertemu Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Dikutip Biro Sekretariat Presiden, pesawat Garuda Indonesia-1 yang membawa Prabowo mendarat di Pangkalan Udara Militer Seongnam Selasa (31/3/2026) sekira pukul 19.15 waktu setempat. Setibanya di Seoul, Prabowo disambut secara resmi melalui upacara kehormatan. Di bawah tangga pesawat, Prabowo menerima penghormatan dari pasukan jajar kehormatan yang terdiri atas 20 personel. Prosesi penyambutan turut dimeriahkan dengan 21 kali dentuman meriam salvo sebagai bentuk penghormatan kenegaraan. Usai menerima upacara penghormatan, Prabowo disambut oleh Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Republik Korea Kim Sungwhan, Duta Besar Designate Republik Korea untuk Indonesia Yoon Soongu, serta Kepala Protokol Negara Republik Korea Kim Tae-jin. Turut menyambut dari pihak Indonesia yakni Duta Besar RI untuk Republik Korea Cecep Herawan dan Atase Pertahanan Republik Indonesia di Seoul Kolonel Penerbang Muhammad Arif. Selama berada di Seoul, Prabowo diagendakan menjalani rangkaian kunjungan kenegaraan, termasuk upacara penyambutan oleh Presiden Republik Korea di Blue House. Disambut Antusiasme Diaspora Saat tiba di hotel tempatnya bermalam, kedatangan Prabowo disambut antusias warga negara Indonesia yang tinggal di Korea Selatan. Tampak dua anak Indonesia yang mengenakan pakaian tradisional berdiri rapi dan menyerahkan rangkaian bunga kepada Prabowo sebagai tanda selamat datang. Prabowo menerima bunga tersebut dengan senyum, mengapresiasi sambutan yang diberikan. Khairul, mahasiswa S2 di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), mengaku bangga bisa menyambut langsung kedatangan Prabowo. Khairul bercerita bahwa dirinya juga sempat berbincang singkat dengan Prabowo yang memberinya semangat untuk menyelesaikan studi. “Tadi beliau tanya saya belajar di mana. Kemudian beliau juga menyemangati saya untuk bisa menyelesaikan studi saya,” tutur Khairul. Hal serupa disampaikan Pujianti, mahasiswa S3 di Seoul National University asal Nusa Tenggara Timur, yang merasa bangga dapat bertemu langsung dengan Prabowo. Pujianti berharap hubungan kedua negara dapat membuka lebih banyak kesempatan pendidikan, khususnya bagi mahasiswa dari Indonesia timur. “Terus terang sangat bangga karena saya berasal dari Nusa Tenggara Timur yang sangat sulit untuk ke Jakarta untuk melihat Bapak Presiden. Tapi saya bisa bertemu dengan Bapak Presiden di tempat saya menuntut ilmu. Jadi saya sangat bangga sekali,” tuturnya. Sementara itu, Rima, diaspora Indonesia yang telah lama menetap di Korea Selatan, juga mengungkapkan rasa haru dan bahagianya. Rima berharap hubungan Indonesia dan Korea semakin erat dan memberi manfaat bagi masyarakat di kedua negara. “Dari kemarin itu saya sampai nggak bisa tidur. Luar biasa sekali. Suatu kehormatan saya bisa diundang dengan KBRI untuk bisa hadir menyambut Bapak,” ucap Rima. “Saya berharap untuk persahabatan Indonesia dan Korea ini makin dipererat,” lanjutnya.