• INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 10, 2025
  • 0 Comments
Meriah, Resepsi Hari Nasional Taiwan ke-114 di Jakarta Pererat Hubungan Dua Negara

INDOPOS-Kantor Perwakilan Taipei di Indonesia (Taipei Economic and Trade Office/TETO) Selasa malam 7 Oktober 2025 menggelar resepsi perayaan Hari Nasional Republik of China (Taiwan) ke-114 di Hotel Borobudur, Jakarta. Ikut hadir beberapa ahli dan mitra kerja , Bruce Hung Rep Perwakilan TETO Taipei Economic and Trade Office/TETO , hadir Prof Dr St Laksanto Utomo SH Mhum Dekan Ubhara Jaya Jakarta Raya dan Dr Muhammad Yusuf IMBC dan Dr Lenny Nadriana SH MH, Wakil Ketua Ikatan Pengurus dan Kurator Indonesia dan Advokat. Mereka turut memberikan selamat pada saat acara tersebut. “Semoga Republik China Taiwan akan tetap mempertahanakan nilai nilai kesetaraan, dan menghormati kemerdekaan berfikir tetal melakukan kerjasama khususnya diperkembangan teknologi dan pendidikan di Indonesia,” ujar Laksanto dalam keterangannya. Acara ini dihadiri secara meriah oleh sekitar 800 tamu undangan, termasuk pejabat pemerintah Indonesia, anggota parlemen, korps diplomatik, komunitas Tionghoa, pengusaha Taiwan, lembaga pemikir (think tank), kalangan seni dan budaya, serta media. (***)

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 10, 2025
  • 0 Comments
PNBP Lampaui Target Lima Kali Lipat, Perkuat Dukungan Program Strategis Lingkungan KLH/BPLH Menuju Indonesia Lestari

INDOPOS-Jakarta, 8 Oktober 2025 — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mencatat capaian luar biasa dalam pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun 2025. Hingga triwulan III, realisasi PNBP mencapai Rp509.385.648.420, atau 543,21% dari target tahunan sebesar Rp93.773.500.000. Capaian yang melampaui target lebih dari lima kali lipat ini menjadi bukti nyata efektivitas tata kelola lingkungan yang produktif, akuntabel, dan berintegritas. PNBP berperan sebagai tambahan pendanaan strategis untuk memperkuat pelaksanaan program prioritas lingkungan hidup nasional. Peningkatan penerimaan ini merupakan hasil sinergi kebijakan dan pengawasan yang mendorong kepatuhan pelaku usaha terhadap peraturan lingkungan, optimalisasi layanan laboratorium lingkungan, serta perluasan sarana pendidikan dan pelatihan lingkungan hidup yang semakin profesional dan menjangkau lebih luas. “Setiap rupiah dari PNBP bukan hanya angka di laporan keuangan, tetapi wujud nyata komitmen kita menjaga bumi untuk generasi mendatang. Dukungan ini memperkuat langkah-langkah strategis KLH/BPLH dalam mengatasi tantangan lingkungan dan memastikan pembangunan nasional berjalan seiring dengan kelestarian alam,” Menteri Hanif. Dengan peran tersebut, PNBP bukan penggerak utama, namun menjadi pelengkap penting yang memberikan dukungan signifikan terhadap berbagai program KLH dalam menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat ekonomi hijau di tingkat nasional maupun daerah. Pelaksanaan PNBP oleh KLH/BPLH dilakukan secara transparan dan akuntabel berdasarkan PMK Nomor 155 Tahun 2021 jo. PMK Nomor 58 Tahun 2023 tentang Tata Cara Pengelolaan PNBP, serta Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2024 dan PP Nomor 47 Tahun 2023 yang mengatur jenis dan tarif PNBP. Melalui regulasi ini, KLH memiliki kewenangan dalam mengelola penerimaan dari berbagai layanan fungsional seperti perizinan lingkungan, uji laboratorium, sertifikasi, serta pelatihan di bidang lingkungan hidup. Selain itu, pengawasan dan pelaporan dilakukan melalui sistem digital terintegrasi dengan Kementerian Keuangan lewat portal ssdpnbp.kemenkeu.go.id. Sistem ini memastikan pelaporan proyeksi, realisasi, dan deviasi PNBP dilakukan tepat waktu, akurat, dan dapat dipantau secara real time. Laporan disampaikan secara berjenjang mulai dari satuan kerja hingga tingkat kementerian setiap tanggal 10 dan 15 setelah masa pelaporan berakhir, menjamin akuntabilitas dan transparansi pengelolaan dana publik. Untuk mengoptimalkan PNBP hingga akhir tahun 2025, KLH/BPLH terus melakukan langkah-langkah strategis dan inovatif, antara lain: 1. Meningkatkan sinergi dengan pemerintah daerah dalam penertiban dan pembinaan unit usaha agar seluruh kegiatan ekonomi mematuhi ketentuan lingkungan. 2. Meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan laboratorium lingkungan untuk memperluas jangkauan, mempercepat waktu layanan, dan memastikan mutu hasil uji yang kredibel serta diakui secara nasional dan internasional. 3. Mengembangkan tata kelola karbon nasional melalui sertifikasi pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) sebagai instrumen strategis untuk mendukung pencapaian target penurunan emisi nasional (Nationally Determined Contribution/NDC Indonesia), memperluas partisipasi sektor swasta dalam perdagangan karbon, serta menyiapkan pemberian label karbon bagi organisasi dan produk yang memenuhi standar berkelanjutan. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem ekonomi hijau dan menjamin integritas penghitungan serta pengakuan penurunan emisi GRK baik di tingkat nasional maupun global. Tindak lanjut penggunaan dana PNBP juga diarahkan pada kegiatan yang memberikan dampak langsung bagi lingkungan dan masyarakat. Dana tersebut digunakan untuk rehabilitasi kawasan hutan dan lahan kritis seluas lebih dari 15.000 hektare, penguatan sistem pemantauan kualitas udara nasional, peningkatan infrastruktur laboratorium lingkungan, serta pengembangan kapasitas aparatur pengawas lingkungan daerah. Selain itu, PNBP mendukung penguatan kebijakan berbasis data ilmiah dan riset lingkungan untuk meningkatkan kualitas tata kelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Dengan capaian yang melampaui target hingga lima kali lipat, KLH/BPLH membuktikan bahwa pengelolaan lingkungan hidup bukan hanya soal kepatuhan, tetapi juga memberi kontribusi signifikan terhadap pendapatan negara dan pembangunan berkelanjutan. Pemerintah optimistis kinerja positif ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2025 melalui pengawasan konsisten, tata kelola transparan, dan inovasi yang berkelanjutan. KLH/BPLH berkomitmen untuk terus memperkuat integritas, transparansi, dan inovasi dalam pengelolaan PNBP, agar setiap rupiah yang diterima menjadi investasi bagi masa depan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berdaya saing. (***)

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 9, 2025
  • 0 Comments
Relawan Prabowo–Gibran Desak Polri Tetapkan Roy Suryo Cs sebagai Tersangka: Ketua DPP MPG Bidang Hukum Sebut “Sudah Keterlaluan di Luar Akal Sehat!”

INDOPOS-Jakarta — Sejumlah relawan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama relawan Prabowo–Gibran, mendatangi Bareskrim Polri pada Kamis (9/10/2025). Kedatangan mereka untuk mendesak aparat penegak hukum segera menetapkan tersangka terhadap Roy Suryo, Tifa, Rismon, dan sejumlah pihak lain yang dinilai menyebarkan fitnah terkait tudingan ijazah palsu Presiden Jokowi. Para relawan menilai, tudingan tersebut sudah kelewatan batas dan berpotensi memecah belah bangsa. Mereka juga mengecam keras tindakan Roy Suryo Cs yang sempat mendatangi makam ibu Presiden Jokowi, yang disebut sebagai tindakan di luar nalar dan etika. > “Ini sudah di luar akal sehat kita. Kami melihat kasus ini sudah berlangsung lama, tapi belum ada kejelasan hukum,” ujar Kamaruzaman, Ketua Bidang Hukum DPP Masyarakat Pendukung Gibran, di Bareskrim Polri. Kamaruzaman menjelaskan, kedatangan mereka ke Bareskrim adalah untuk melayangkan surat keberatan atas lambannya penanganan kasus tudingan ijazah palsu oleh Polda Metro Jaya. Ia menilai, sejak kasus ini naik ke tahap penyidikan, belum ada perkembangan signifikan dari pihak kepolisian. > “Kalau sudah masuk tahap penyidikan, artinya unsur pidana sudah ditemukan. Tinggal penetapan tersangka. Tapi sampai hari ini stagnan. Kami mendesak Mabes Polri untuk menegur Polda Metro Jaya. Jika tidak, kami akan laporkan ke Propam,” tegasnya. Di lokasi yang sama, politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ade Armando, juga meminta polisi segera mengambil sikap tegas agar kasus tidak berlarut-larut dan tidak menjadi bola liar di publik. > “Kalau memang tidak ada pelanggaran hukum, ya nyatakan saja tidak terbukti. Tapi kalau terbukti ada pencemaran nama baik terhadap Pak Jokowi, maka penegakan hukum harus dijalankan. Publik perlu tahu bahwa fitnah semacam ini tidak boleh dibiarkan,” kata Ade Armando. Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah menerima pelimpahan laporan dari empat Polres terkait dugaan ijazah palsu Jokowi. Kasus tersebut kini ditangani oleh Subdit Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan telah dinaikkan dari tahap penyelidikan ke penyidikan. Para relawan berharap Polri menjaga marwah institusi dan menindak tegas pihak-pihak yang dianggap memanfaatkan isu sensitif ini untuk kepentingan politik dan provokasi publik. (***)

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 9, 2025
  • 0 Comments
Arogansi Jabatan Anggota DPRD Sumut Fraksi Golkar Megawati Zebua Berujung Tersangka, Sanksi PAW Menanti

INDOPOS-Medan, 9 Oktober 2025 — Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dari Fraksi Partai Golkar, Megawati Zebua, resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap pramugari maskapai Lion Air. Hal ini membuat yang bersangkutan terancam hukuman, dan sekaligus PAW dari jabatannya. Informasi yang beredar di kalangan media, penetapan status tersangka ini merupakan hasil dari gelar perkara yang dilakukan penyidik di Polda Sumut pada hari Kamis, 9 Oktober 2025. Media sudah mencoba mengonfirmasi kepada Akp Aman Kanit PPA, yang menangani kasus tersebut. Namun, sejauh ini belum mendapat jawaban. Kasus ini bermula dari video viral di media sosial yang memperlihatkan aksi Megawati Zebua diduga melakukan tindakan tidak pantas dan disertai kekerasan terhadap seorang pramugari Lion Air di dalam pesawat. Video tersebut menuai kecaman luas dari masyarakat dan memunculkan desakan agar aparat penegak hukum bertindak tegas tanpa pandang bulu. Sementara itu, pihak Polda Sumut memastikan proses hukum akan berjalan transparan dan profesional, meskipun yang bersangkutan merupakan pejabat publik. Kasus ini menjadi sorotan publik karena dinilai mencerminkan arogansi kekuasaan yang berujung pada tindakan melanggar hukum, sekaligus menjadi ujian bagi penegakan hukum yang adil tanpa melihat jabatan atau status sosial pelaku. Kapolres Nias AKBP Revi Nurvelani melalui Kasi Humas Aipda Motivasi Gea, membenarkan pihak Wings Air telah datang di Polres Nias, dan melaporkan kasus ini. “Iya, memang benar pihak daripada Wings Air melaporkan kasus tersebut,” kata Motivasi. Aipda Motivasi Gea menjelaskan, pelapor adalah salah seorang pramugari Wings Air berinisial LCK (28), perempuan, yang berdasarkan alamat di KTP, pelapor berasal dari Manado. Sedangkan terlapor adalah MZ. Polda Sumut Gelar Perkara Kasus Penganiayaan Lidya Christine Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumatera Utara menyampaikan perkembangan terbaru terkait laporan dugaan tindak pidana kekerasan fisik dan atau penganiayaan yang dialami oleh Lidya Christine Kabrahanubun. Kasus tersebut kini telah memasuki tahap rencana gelar perkara penetapan tersangka. Dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) Nomor B/SP2HP/2101/X/RES.1.6./2025/Ditreskrimum tertanggal 3 Oktober 2025, yang ditandatangani oleh Kasubdit V/Remaja Anak dan Wanita (Renakta), Kompol M. Ikman Adeputra, S.I.K., M.H., dijelaskan bahwa penyidik telah menerima hasil pemeriksaan laboratorium forensik terkait perkara tersebut. Kasus ini berawal dari Laporan Polisi Nomor: LP/B/221/IV/2025/SPKT/Polres Nias/Polda Sumatera Utara, yang dilayangkan Lidya Christine pada 17 April 2025. Dalam laporan itu, Lidya mengaku menjadi korban penganiayaan yang terjadi pada Minggu, 13 April 2025, sekitar pukul 15.30 WIB di Jl. Pelud Binaka, Desa Binaka, Kecamatan Gunung Sitoli, dalam penerbangan IW 1267. Penyidikan dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor: SP.Sidik/428/VI/2025/Ditreskrimum tertanggal 17 Juni 2025, serta SP.Sidik/657/VIII/2025/Ditreskrimum tertanggal 19 Agustus 2025. Hasil pemeriksaan teknis laboratorium forensik tercatat dalam Berita Acara Pemeriksaan Teknis No. Lab: 5581/FKF/2025 tanggal 22 September 2025. Dalam surat tersebut, pihak kepolisian menyampaikan bahwa tahap selanjutnya adalah gelar perkara untuk penetapan tersangka. “Apabila ada keluhan atau pertanyaan dapat menghubungi penyidik AKP Aman P. Bangunsyah di nomor 0812-6266-0049, atau penyidik pembantu Bripka Juita Novriana di nomor 0822-7393-9307,” demikian tertulis dalam SP2HP tersebut. Dengan adanya perkembangan ini, masyarakat berharap proses hukum dapat segera menemukan titik terang dan memberikan keadilan bagi pihak pelapor.

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 8, 2025
  • 0 Comments
Film Dokumenter “Napak Tilas Makam Kumpi”: Menyusuri Jejak Leluhur Betawi

INDOPOS-JAKARTA — Ketua Umum Seniman Intelektual Betawi (SIB), Tahyudin Aditya, mengungkap bahwa pihaknya telah menyelesaikan produksi film dokumenter berjudul “Napak Tilas Makam Kumpi”. Karya ini digarap dengan dukungan Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Barat, sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya tak benda masyarakat Betawi. Menggali Makna “Kumpi” dalam Budaya Betawi KLIK VIDEO BERIKUT UNTUK MENONTON DOKUMENTER NAPAK TILAS MAKAM KUMPI  Film dokumenter ini menelusuri kisah leluhur masyarakat Betawi yang dikenal dengan sebutan “Kumpi”. Dalam khazanah Betawi, kumpi berarti orang tua dari kakek atau nenek — buyut atau leluhur jauh yang menjadi puncak silsilah keluarga Betawi. Bagi banyak keluarga Betawi, jejak silsilah mereka sering berhenti di generasi kumpi, menjadikan figur ini simbol penting dalam mengenali asal-usul. Perjalanan Ziarah di Semanan Perjalanan dalam film membawa penonton menapaki jejak para leluhur yang dimakamkan di wilayah Kelurahan Semanan, Jakarta Barat. Makam-makam ini tidak sekadar tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga menjadi penanda sejarah dan identitas masyarakat setempat. Tujuan pertama adalah Makam Kumpi Nata, yang menurut penuturan warga, berasal dari sosok Raden Arya Winata — seorang penggembala kerbau dari Cirebon yang memiliki kesaktian luar biasa. Kisah tentang cahaya tasbih yang menyala saat beliau berzikir di malam hari menambah kesan keramat pada makam ini. Tak jauh dari sana, di pinggir Jalan Daan Mogot, terdapat dua makam lainnya: Kumpi Senan dan Kumpi Dinin. Keduanya diyakini sebagai kakak beradik keturunan Kong Lufi, tokoh masyarakat yang dihormati di masa lampau. Meski sejarah tertulis tentang mereka minim, warga sekitar tetap memuliakan makam ini dan rutin berziarah setiap malam Jumat dan malam Minggu. Menurut penuturan masyarakat, kedua tokoh ini berasal dari Buaran, sebelum kemudian wilayahnya masuk ke dalam Kelurahan Semanan akibat perluasan jalan. Makam Kumpi Senan dan Kumpi Dinin kini menjadi salah satu situs ziarah yang ramai dikunjungi oleh masyarakat Betawi dan peziarah dari luar daerah. Kisah Kumpi Rebo, Leluhur Tertua di Semanan Lebih jauh ke barat, dokumenter ini mengisahkan tentang Kumpi Rebo, yang diyakini sebagai kumpi tertua di Semanan. Menurut peta topografi Belanda tahun 1902, makam Kumpi Rebo di TPU Semanan sudah tercatat sejak masa itu. Dahulu wilayah ini merupakan dataran tinggi dengan pohon kepuh besar yang menjadi penanda alami kawasan tersebut. Kisah Kumpi Rebo berkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Jawa Barat dan Banten. Dikisahkan bahwa beliau merupakan bagian dari utusan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dari Cirebon yang sempat singgah di kawasan ini dalam perjalanan dakwahnya. Selain Kumpi Rebo, disebut pula Kumpi Masih dan Kumpi Jenggot sebagai tiga bersaudara yang menjadi leluhur utama masyarakat Tanah Tinggi. Khusus Kumpi Jenggot, kisahnya hidup di tengah masyarakat Kampung Lamporan, dikenal karena penampakannya yang berjenggot panjang dan bersorban, sering dilihat menaiki kuda dalam cerita rakyat setempat. Jejak Spiritual dan Tradisi Ziarah Makam-makam para kumpi ini telah beberapa kali direnovasi — seperti makam Kumpi Jenggot yang dipugar pada tahun 1970, 1984, dan 2023. Hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat Betawi di Semanan masih memelihara warisan leluhur dengan penuh penghormatan. Bagi warga Betawi, tradisi ziarah ke makam para kumpi bukan semata ritual keagamaan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap asal-usul. Menjelang bulan Ramadan, masyarakat masih melaksanakan tradisi “rawahan arwah”, yaitu mendoakan dan menghadiahkan pahala bagi para leluhur yang telah berpulang. Istilah “keramat” dalam budaya Betawi merujuk pada tempat atau wilayah yang memiliki keistimewaan spiritual, sedangkan “karamah” menunjuk pada keistimewaan yang dimiliki seseorang. Makam para kumpi sering dianggap keramat karena dipercaya memiliki nilai sejarah, spiritual, dan simbol penghormatan terhadap para pendahulu. Menumbuhkan Kesadaran Generasi Muda Melalui film dokumenter Napak Tilas Makam Kumpi, SIB berharap generasi muda Betawi dapat memahami dan menghargai akar sejarahnya. “Banyak anak muda sekarang yang belum tahu apa itu kumpi. Dokumenter ini bisa memperkaya wawasan mereka tentang sejarah dan budaya Betawi,” ungkap Tahyudin Aditya. Film ini menjadi pengingat bahwa Semanan bukan sekadar wilayah di tengah hiruk pikuk kota, melainkan permadani sejarah yang menyimpan kisah para leluhur. Menjaga, mengenal, dan menghormati mereka berarti merawat jati diri masyarakat Betawi. Penanggung Jawab: Mochamad Miftahulloh Tamary – Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Joko Mulyono – Kepala Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Barat Tim Produksi: Produser Eksekutif: Tahyudin Aditya Sekretaris: Eva Ismariati Bendahara: Intan Sari Sinaga Koordinator & Tim Produksi: Alfi Wildan Faraby, Ramanda Primawan, Khalif Fadhel Husein, Hery Herdian, Muh. Isdar, Febriyano, Fiva Tamara, Tanti Fauziah Ucapan Terima Kasih: Seniman Intelektual Betawi, Yayasan Latansa Jakarta, Rumah Gede Aditya’s, para juru kunci makam Kumpi Rebo, Kumpi Jenggot, Kumpi Nata, dan Kumpi Manan, Ustaz Nana Suryana (Majelis Ta’lim Al-Mugni), serta kelompok Qasidah Indira Nada Semanan, Gema Beta Daya, dan Sanggar Seni Budaya Kayu…

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 8, 2025
  • 0 Comments
Seniman Intelektual Betawi Rilis Dokumenter “Rebana Qasidah” Pelestarian Irama Religius di Tengah Dinamika Kota Jakarta

INDOPOS-Jakarta — Ketua Umum Seniman Intelektual Betawi (SIB), Tahyudin Aditya, mengungkap bahwa pihaknya telah menyelesaikan produksi film dokumenter berjudul “Rebana Qasidah.” Karya ini digarap dengan dukungan Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Barat, sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya tak benda masyarakat Betawi. Film ini mengangkat kisah dan filosofi di balik kesenian rebana qasidah, salah satu bentuk musik religius yang tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat Betawi. KLIK VIDEO BERIKUT UNTUK MENONTON DOKUMENTER “REBANA QASIDAH”  “Bahasa tertua manusia lahir sebelum adanya kata dan huruf. Ia mengetuk hati, menghidupkan ingatan, hingga membangkitkan rasa. Musik adalah cermin jiwa masyarakatnya,” demikian narasi pembuka dokumenter tersebut. Di balik hiruk-pikuk kota Jakarta, rebana qasidah hadir sebagai irama penuh makna, menyatukan unsur spiritualitas, sejarah, dan budaya. Dalam berbagai bentuknya, rebana menjadi napas kehidupan masyarakat Betawi, mulai dari rebana biang, rebana ketimpring, hingga rebana qosidah—yang kini paling populer di kalangan majelis taklim ibu-ibu. Budayawan Betawi Abdul Azis menjelaskan, rebana qasidah awalnya digunakan oleh kelompok pengajian sebagai bentuk ekspresi spiritual yang mengiringi tahlil dan pembacaan maulid. “Awalnya muncul karena kejenuhan saat pengajian yang panjang. Akhirnya mereka mencari cara agar tetap berdzikir tapi dengan irama yang menyenangkan,” ujarnya dalam dokumenter tersebut. Menurut catatan sejarah yang diungkapkan para tokoh, kesenian rebana masuk ke tanah Betawi sekitar abad ke-18 dibawa oleh Syekh Zainal, seorang penasehat Sultan Banten. Dari sinilah rebana kemudian berkembang dan menyatu dengan kehidupan masyarakat Betawi, hingga lahir berbagai bentuk dan gaya permainan. Kini, di wilayah Jakarta Barat, rebana qasidah masih sangat lestari. Ibu-ibu majelis taklim masih rutin berlatih dan tampil dalam berbagai acara keagamaan, mulai dari peringatan maulid hingga hajatan keluarga. Dalam setiap ketukan rebana tersimpan doa, dan dalam setiap syair terselip ajakan untuk berbuat kebaikan. “Rebana qasidah umumnya dimainkan sambil duduk menggunakan rebana kecil dari kulit sapi. Permainannya memiliki teknik tersendiri dengan perpaduan suara markis, bas, dan selo yang mengikuti irama lagu,” jelas seorang pelatih dalam film tersebut. Tahyudin Aditya berharap, kesenian rebana qasidah dapat terus dikembangkan dengan konsep yang lebih dinamis dan kreatif agar bisa dinikmati masyarakat luas, bahkan hingga tingkat internasional. “Kasidah itu harus dikemas agar bisa dinikmati bukan hanya oleh ibu-ibu pengajian atau warga Jakarta, tapi juga warga dunia,” ungkapnya. Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat Joko Mulyono menambahkan, dokumenter ini diharapkan dapat memperkaya khasanah budaya Betawi dan menjadi bagian penting dari pelestarian warisan tak benda di ibu kota. “Melalui dokumentasi seperti ini, masyarakat bisa mengenal lebih dalam kekayaan budaya Betawi, termasuk seni musik religiusnya,” ujarnya. Di tengah arus globalisasi dan gempuran musik digital, Rebana Qasidah membuktikan bahwa kesenian tradisional masih memiliki ruang dan jiwa dalam kehidupan modern. Ia bukan sekadar seni, melainkan warisan nilai dan doa yang terus hidup di setiap dentingan rebana. “Rebana Qasidah adalah simfoni Betawi yang tak lekang oleh zaman. Ia akan terus ditabuh sebagai doa, pengingat, dan pelipur lara—menjaga ruh budaya di tengah kota yang terus berubah.” Kredit Produksi Dokumenter “Rebana Qasidah” Narasumber: Abdul Azis (Budayawan Betawi) Penanggung Jawab: Mochamad Miftahulloh Tamary – Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Joko Mulyono – Kepala Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Barat Tim Produksi: Produser Eksekutif: Tahyudin Aditya Sekretaris: Eva Ismariati Bendahara: Intan Sari Sinaga Koordinator & Tim Produksi: Alfi Wildan Faraby, Ramanda Primawan, Khalif Fadhel Husein, Hery Herdian, Muh. Isdar, Febriyano, Fiva Tamara, Tanti Fauziah Ucapan Terima Kasih: Seniman Intelektual Betawi, Yayasan Latansa Jakarta, Rumah Gede Aditya’s, para juru kunci makam keramat Betawi, Majelis Taklim Al-Mugni, Qasidah Indira Nada, Gema Beta Daya, dan Sanggar Seni Budaya Kayu Besar.

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 8, 2025
  • 0 Comments
Dokumenter Video Seniman Intelektual Betawi (SIB) “Manaqib Syekh Samman” : Jejak Spiritual dan Budaya Betawi yang Tak Lekang oleh Zaman

INDOPOS-Jakarta – Ketua Umum Seniman Intelektual Betawi (SIB), Tahyudin Aditya, mengungkap bahwa pihaknya telah menyelesaikan pembuatan film dokumenter berjudul “Manaqib Syekh Samman”. Karya ini diproduksi dengan dukungan dari Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Barat, sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya tak benda masyarakat Betawi. KLIK VIDEO DI BAWAH UNTUK MENONTON DOKUMENTER MANAQIB SYEKH SAMMAN:  “Alhamdulillah dokumenter ini rampung dengan baik. Kami berharap film ini dapat menjadi arsip budaya dan juga media edukasi bagi generasi muda,” ujar Tahyudin. Islam dan Budaya Betawi yang Menyatu Bagi masyarakat Betawi, Islam bukan sekadar agama, tetapi sudah menjadi bagian utuh dari identitas budaya mereka. Nilai-nilai Islam melekat kuat dalam berbagai ritual, tradisi, dan perayaan Betawi. Salah satu tradisi keagamaan yang masih bertahan hingga kini adalah rotib saman atau pembacaan manaqib Syekh Muhammad Saman. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan dan pembacaan kisah hidup serta karomah Syekh Muhammad Saman — seorang wali Allah dan pendiri Tarekat Sammaniyah, yang ajarannya telah menyebar luas ke dunia Islam, termasuk Indonesia. Asal-usul Tarekat Sammaniyah Tarekat Sammaniyah berasal dari Madinah, didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al-Madani Asy-Syafi’i, lebih dikenal sebagai Syekh Muhammad Saman. Ia dikenal sebagai wali besar yang memiliki kedudukan tinggi di antara para ulama dan dianggap sejajar dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pimpinan para wali (quthub). Di Indonesia, ajaran tarekat ini berkembang pesat pada abad ke-19 melalui dua tokoh penting: Syekh Abdurahman Al-Batawi dan KH Abdul Mukni (Guru Mukni). Keduanya berperan besar dalam mengenalkan ajaran tarekat Sammaniyah di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dari Hikayat ke Tradisi Betawi Kitab Manaqib Syekh Muhammad Saman awalnya ditulis oleh Syekh Siddiq bin Umar Khan Al-Madani, kemudian diterjemahkan oleh Muhammad Muhyidin bin Saihabuddin Al-Palimbani dengan judul Hikayat Syekh Muhammad Saman. Hingga kini, naskah tersebut masih banyak ditemukan di kalangan masyarakat Betawi dalam bentuk tulisan Arab Melayu dengan bahasa Melayu klasik. Bagi masyarakat Betawi, pembacaan manaqib Syekh Saman tidak hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan juga sarana spiritual untuk bertawasul, melaksanakan nazar, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di antara warga. Ritual dan Sajian Khas Betawi Dalam pelaksanaan rotib saman, suasana khas Betawi sangat terasa. Sajian sederhana seperti kopi pahit, pisang raja, susu, air putih, dan es kelapa selasih menjadi pelengkap tradisi. Biasanya, ritual ini dilaksanakan ketika seseorang memiliki hajat atau nazar yang telah terkabul, seperti anak lulus sekolah, diterima kerja, atau terbebas dari kesulitan hidup. “Bagi orang Betawi dulu, pembacaan manaqib Syekh Saman adalah bentuk rasa syukur kepada Allah. Kalau ada keinginan tercapai, mereka adakan manaqiban,” ujar salah satu narasumber dalam dokumenter. Dari Jamaah ke Perorangan Dahulu, pembacaan manaqib dilakukan oleh jamaah tarekat Sammaniyah dalam kelompok resmi. Namun kini, pelaksanaannya telah bergeser menjadi kegiatan perorangan atau majelis taklim. Banyak warga melaksanakannya secara mandiri di rumah, dengan mengundang tetangga dan guru pengaji untuk membacakan manaqib. Tradisi ini juga dilakukan secara rutin bulanan oleh majelis taklim ibu-ibu dan bapak-bapak, sebagai sarana menjaga silaturahmi sekaligus memperdalam nilai-nilai keislaman yang diwariskan oleh para wali. Pelestarian Nilai Spiritual dan Budaya Sayangnya, tradisi rotib saman kini mulai tergerus oleh waktu. Praktik spiritual yang dulu menjadi denyut kehidupan masyarakat Betawi kini lebih banyak dijalankan oleh kalangan orang tua. Generasi muda perlahan menjauh, terputus dari akar spiritual dan budaya leluhur. Padahal, menurut budayawan Suaeb Mahbub dan Antayudha Adityas, rotib saman bukan sekadar doa, tetapi juga ritus budaya yang memuat nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial. “Anak muda harus tahu manfaat dan faedahnya. Kalau mereka paham, hatinya akan damai, dan tidak mudah terjerumus dalam hal-hal negatif seperti tawuran,” ujar Suaeb Mahbub. Para budayawan berharap, pemerintah bersama masyarakat dapat bersinergi membuat kebijakan dan fasilitas pendukung agar pelestarian budaya Betawi, termasuk rotib saman, bisa terus hidup di tengah perubahan zaman. Warisan Tak Benda yang Hidup Menurut Joko Mulyono, Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat, dokumenter ini menjadi bagian penting dalam pendataan dan pelestarian warisan budaya tak benda Betawi. Selain kuliner dan seni pertunjukan seperti ondel-ondel atau palang pintu, ritus seperti pembacaan manaqib Syekh Saman merupakan khazanah spiritual yang memperkaya identitas masyarakat Jakarta. “Melalui dokumentasi ini, kami ingin masyarakat Jakarta Barat bisa lebih mengenal kekayaan budaya Betawi yang bukan hanya berupa benda, tapi juga spiritualitas dan tradisi,” ujar Joko Mulyono. Penutup: Menjaga Denyut Rohani Betawi Rotib Saman bukan sekadar lantunan doa. Ia adalah denyut rohani, simpul sejarah, dan jati diri masyarakat Betawi. Kini, di hadapan generasi muda terbentang dua pilihan: membiarkan tradisi ini hilang perlahan, atau merangkulnya sebagai warisan luhur agar jati diri Betawi tak lekang oleh zaman. Narasumber: Suaeb Mahbub, Budayawan Betawi Antayudha Adityas, Budayawan Betawi Joko Mulyono, Kasudin Kebudayaan Jakarta Barat Penanggung Jawab: Mochamad…

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 8, 2025
  • 0 Comments
Taipei Economic and Trade Office di Indonesia Gelar Resepsi Hari Nasional Republik of China (Taiwan)  ke-114

INDOPOS-Kantor Perwakilan Taipei di Indonesia (Taipei Economic and Trade Office/TETO) Selasa malam 7 Oktober 2025 menggelar resepsi perayaan Hari Nasional Republik of China (Taiwan) ke-114 di Hotel Borobudur, Jakarta. Acara ini dihadiri secara meriah oleh sekitar 800 tamu undangan, termasuk pejabat pemerintah Indonesia, anggota parlemen, korps diplomatik, komunitas Tionghoa, pengusaha Taiwan, lembaga pemikir (think tank), kalangan seni dan budaya, serta media. Representative TETO Bruce Hung dalam sambutannya menyampaikan bahwa semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan modern, dan Taiwan berada di pusat revolusi AI karena posisinya yang krusial dalam ekosistem global elektronik dan semikonduktor. Ia menambahkan, pameran teknologi internasional COMPUTEX yang diselenggarakan di Taipei tahun ini telah menjadi ajang AI paling bergengsi di dunia. Para CEO dari perusahaan teknologi terkemuka hadir langsung di COMPUTEX, dan Nvidia  bahkan mengumumkan pendirian kantor pusat Nvidia serta pusat superkomputer AI pertama di Taipei. sekaligus menegaskan posisi penting Taiwan dalam industri semikonduktor global. Hubungan Taiwan dan Indonesia dalam bidang perdagangan, investasi, pendidikan, dan pertukaran antar masyarakat juga sangat erat. Taiwan merupakan mitra dagang terbesar ke-10 sekaligus salah satu sumber investasi asing penting bagi Indonesia. Nilai perdagangan bilateral Taiwan-Indonesia pada tahun 2024 mencapai hampir 11 miliar dolar AS. Dalam hal pertukaran masyarakat, saat ini terdapat lebih dari 320.000 pekerja migran Indonesia dan sekitar 18.000 pelajar Indonesia yang bekerja dan belajar di Taiwan. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja dan pendidikan Taiwan yang ramah telah memberikan peluang perkembangan dan jaminan hidup yang baik bagi komunitas Indonesia di Taiwan. Selain itu, Taiwan juga berkomitmen memperkuat kerja sama di bidang pariwisata, pertanian, dan kesehatan dengan Indonesia. Dalam rangka memperkuat hubungan antara Taiwan dan komunitas  internasional, Taiwan berpedoman pada visi Presiden Lai Ching-te tentang “Diplomasi Berbasis Nilai”, serta konsep “Diplomasi terpadu ” yang dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung. Taiwan secara aktif memperluas kerja sama global dan terus memperdalam kemitraan dengan negara-negara yang memiliki nilai serupa dalam tiga pilar utama: demokrasi, perdamaian, dan kemakmuran. Sebagai anggota komunitas global yang aktif dan bertanggung jawab. Taiwan bersedia berbagi keunggulannya dalam bidang kesehatan, pertanian, dan manufaktur semikonduktor. Slogan “Taiwan Can Help” (Taiwan Bisa Membantu) bukan sekadar kata-kata, tetapi merupakan aksi nyata. Meski Taiwan adalah negara kecil, ia memiliki banyak pengalaman sukses yang dapat dibagikan dengan dunia untuk berkontribusi secara bermakna dalam menciptakan kekuatan positif global. Pada resepsi Hari Nasional tahun ini, siswa dari Sekolah Taipei di Jakarta tampil mempersembahkan pertunjukan spesial. Selain itu, tamu undangan disuguhi berbagai kuliner khas Taiwan yang terkenal, seperti xiaolongbao Din Tai Fung, minuman teh Chatime, bubble tea Xing Fu Tang, es serut Taiwan, teh oolong dari 63 Tea House, serta kopi “Golden Malabar” yang diproduksi oleh pengusaha Taiwan di Indonesia. Sebuah pahatan es raksasa berbentuk Gedung Taipei 101 juga dipajang di lokasi, memungkinkan para tamu merasakan suasana “rasa Taiwan” meskipun berada di Indonesia. Acara resepsi juga menayangkan film “Resilient Taiwan” yang diproduksi oleh Kementerian Luar Negeri Taiwan, yang memperkenalkan kemajuan teknologi, politik, dan ekonomi Taiwan, menampilkan keindahan alam yang memperlihatkan keberagaman budaya Taiwan. Resepsi Hari Nasional tahun ini diakhiri secara meriah dengan doa dan ucapan selamat dari para tamu undangan. Berikut Pidato Lengkap Bruce Hung,   Representative of Taipei Economic and Trade Office in Indonesia Para Tamu Terhormat, Bapak/Ibu sekalian, Selamat malam! ATAS nama Presiden Lai Ching-te dan seluruh rakyat Taiwan yang luar biasa, saya ingin menyampaikan sambutan hangat kepada Anda semua yang telah bergabung bersama kami dalam merayakan hari nasional yang ke-114 Republic of China (Taiwan). Saya juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk merenungkan apa yang telah kita capai dan apa yang dapat kita lakukan bersama selanjutnya. Di dunia saat ini, sulit membayangkan hidup tanpa semikonduktor. Gelombang kecerdasan buatan (AI) terus melanda dunia. Untungnya, Taiwan berada di pusat revolusi AI karena Taiwan memegang posisi krusial dalam ekosistem elektronik dan semikonduktor global. Hal ini menjelaskan mengapa COMPUTEX Taiwan menjadi ajang AI yang paling dinantikan. Tahun ini, para CEO dari berbagai raksasa teknologi tinggi dunia menghadiri COMPUTEX di mana Nvidia mengumumkan rencana untuk membangun kantor pusat Nvidia dan superkomputer AI pertama di Taipei. Hal itu yang semakin memperkuat peran penting Taiwan dalam masa depan AI. Perkembangan ini menyoroti peran penting Taiwan dalam dunia semikonduktor. Sudah 10 bulan sejak saya memulai perjalanan di posisi saya saat ini, saya tidak dapat mengungkapkan betapa saya menghargai persahabatan erat antara Taiwan dan Indonesia. Taiwan dan Indonesia telah menjalin hubungan yang erat dalam perdagangan, investasi, pendidikan, dan yang terpenting, hubungan antarmasyarakat yang kuat. Taiwan bangga menjadi mitra dagang terbesar ke-10 Indonesia dan sumber investasi asing yang signifikan…

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 7, 2025
  • 0 Comments
ASN DKI dan “Alergi” terhadap Lulusan STPDN

INDOPOS Oleh: Agung Nugroho, Direktur Jakarta Institute Fenomena ketidaksukaan ASN DKI terhadap pemimpin berlatar STPDN tak bisa dilepaskan dari aroma politik kekuasaan yang makin kental setiap menjelang Pilgub DKI. Dalam birokrasi, setiap penempatan pejabat tinggi selalu dibaca bukan sekadar rotasi administrasi, tetapi juga sinyal politik. Maka ketika beredar kabar bahwa sejumlah figur potensial di lingkar kekuasaan nasional — termasuk yang berlatar STPDN — tengah disiapkan menempati posisi strategis di Pemprov DKI, wajar bila muncul kegelisahan di kalangan aparatur. Mereka khawatir Jakarta akan kembali dikelola dengan gaya komando yang tak cocok dengan kultur birokrasi urban. Bagi banyak ASN DKI, STPDN identik dengan pola kepemimpinan yang dibentuk dari sistem komando, loyalitas mutlak, dan pendekatan hierarkis yang kuat. Itu cocok untuk birokrasi di daerah konservatif atau wilayah dengan kontrol sosial tinggi, tapi terasa canggung di Jakarta — kota yang hidup dari improvisasi, negosiasi, dan kerja cepat. Gaya “komando vertikal” yang terbiasa menunggu perintah dari atas sering kali dianggap memperlambat roda birokrasi kota yang dinamis. Maka, di benak ASN DKI, muncul semacam kekhawatiran: kalau pemimpinnya STPDN, jangan-jangan Jakarta akan kembali ke gaya “satu perintah satu arah, tanpa diskusi.” Situasi ini juga terkait dengan pertarungan simbolik antara dua model birokrasi: teknokrat kota versus birokrat komando. DKI selama ini menjadi etalase reformasi birokrasi nasional — sistemnya paling transparan, teknologinya paling maju, dan pengawasan publiknya paling ketat. Di sisi lain, figur berlatar STPDN sering diasosiasikan dengan jaringan politik yang kuat di pusat kekuasaan. Bila figur seperti ini menempati posisi kunci di DKI, sebagian ASN menilai akan ada arus balik: birokrasi yang tadinya merit-based bisa tergantikan oleh sistem patronase berbasis loyalitas. Karena itu, resistensi ASN sebenarnya bukan semata soal asal sekolah, tapi soal ketakutan akan “sentralisasi gaya baru” di tubuh birokrasi Jakarta. Sebab DKI bukan sekadar provinsi; ia adalah panggung politik nasional. Siapa pun yang memimpin birokrasi di sini otomatis menjadi bagian dari skenario kekuasaan yang lebih besar. Dan ASN yang sudah terbiasa hidup di bawah sorotan media paham betul, di balik setiap penempatan pejabat pasti ada kalkulasi politik. Maka sikap mereka yang tampak “dingin” terhadap figur berlatar STPDN bisa dibaca sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi politisasi birokrasi oleh kekuatan di luar Balai Kota. Jakarta, bagi ASN-nya, adalah simbol otonomi profesional. Mereka ingin tetap dipimpin oleh sosok yang paham dinamika perkotaan, bukan sekadar menjadi perpanjangan tangan kekuasaan pusat. Itulah mengapa ketidaksukaan terhadap figur STPDN muncul bukan karena sentimen pribadi, tapi karena kekhawatiran bahwa birokrasi DKI akan kembali dijadikan alat mobilisasi politik, bukan mesin pelayanan publik. Pada akhirnya, siapa pun yang maju ke DKI nanti — entah dari jalur teknokrat, politikus, atau STPDN — akan dihadapkan pada satu kenyataan: Jakarta bukan daerah biasa, dan ASN-nya bukan bawahan yang mudah diarahkan tanpa logika. Mereka terbiasa berpikir, bukan sekadar melaksanakan. Bila pemimpin datang dengan gaya komando, mereka akan diam tapi tak benar-benar berjalan. Tapi bila datang dengan gaya kolaboratif, mereka akan bekerja tanpa harus diperintah. Dan di situlah perbedaan besar antara memimpin daerah dan memimpin Jakarta. Birokrasi Jakarta tak butuh pemimpin yang gagah dalam apel pagi, tapi yang mampu menyalakan semangat dalam forum diskusi. ASN DKI tidak menolak STPDN, mereka hanya menolak jika Jakarta dijadikan barak.

  • INDOPOSINDOPOS
  • Oktober 7, 2025
  • 0 Comments
Menkeu Purbaya Dapat Dukungan Poros Muda Betawi untuk Alokasikan Dana Rp 10-20 T Ke Bank Jakarta, Diharapkan Dapat Perkuat Ekonomi Masyarakat

INDOPOS-Sekretaris Jenderal Poros Muda Betawi, Iman Hendri, S.Hi, menyambut baik langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang berencana mengalokasikan dana sebesar Rp10 hingga Rp20 triliun kepada Bank Jakarta. Dana tersebut diharapkan dapat memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di DKI Jakarta, khususnya bagi pelaku usaha lokal dan masyarakat Betawi. Iman Hendri menilai, rencana pemerintah pusat itu merupakan angin segar bagi pelaku UMKM yang selama ini masih menghadapi keterbatasan modal dan akses pembiayaan. Terlebih, keberadaan Bank Jakarta diharapkan mampu menjadi motor penggerak perekonomian lokal melalui penyaluran dana yang tepat sasaran dan berpihak kepada rakyat kecil. “Kami menyambut baik langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Dana tersebut diharapkan benar-benar dimanfaatkan untuk mendorong kemajuan UMKM di Jakarta, terutama UMKM khas Betawi seperti kuliner dan kerajinan tradisional yang selama ini masih kekurangan modal usaha,” ujar Iman Hendri di Jakarta, Selasa (7/10/2025). Ia menegaskan, Poros Muda Betawi siap bersinergi dengan pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mendukung program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurutnya, sektor UMKM khas Betawi memiliki potensi besar untuk berkembang apabila mendapatkan dukungan permodalan dan pembinaan yang berkelanjutan. Lebih lanjut, Iman berharap Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat ekosistem UMKM di Jakarta. Ia menilai, dengan adanya dana besar yang disalurkan ke Bank Jakarta, pemerintah daerah memiliki peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat. “Kami percaya, dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah pusat, Pemprov DKI, dan lembaga keuangan daerah, UMKM Jakarta bisa naik kelas. Ini juga menjadi kesempatan emas untuk mengangkat martabat dan kemandirian ekonomi masyarakat Betawi,” tambahnya. Iman juga menyoroti pentingnya pendampingan dan pelatihan bagi para pelaku usaha kecil agar dana yang disalurkan tidak hanya habis untuk modal awal, tetapi juga dapat dikelola secara produktif dan berkelanjutan. Menurutnya, sektor kuliner, kriya, dan wisata budaya Betawi adalah potensi unggulan yang bisa menjadi ikon ekonomi kreatif Jakarta jika mendapatkan dukungan yang memadai. “UMKM Betawi bukan hanya soal usaha, tapi juga pelestarian budaya. Dengan dukungan dana dan pembinaan yang baik, kita bisa menjaga identitas Betawi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,” tutup Iman Hendri. Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmennya memperkuat sektor UMKM dan industri lokal — termasuk kuliner khas Betawi — melalui suntikan dana ke Bank Jakarta. Menteri Keuangan yang dikenal senang makan di warung UMKM di Jakarta ini menilai, sektor usaha kecil memiliki potensi besar dalam mendorong jalannya perekonomian Indonesia. “UMKM semestinya juga mendapat perhatian. Jangan sampai mereka kalah bersaing hanya karena minim modal,” kata Purbaya usai bertemu Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota DKI. Purbaya menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Pramono untuk memastikan kesiapan Bank Jakarta dalam menyalurkan dana tersebut. “Saya tanya tadi ke Pak Gubernur, apakah Bank Jakarta bisa nyerap? Jangan sampai saya kasih duit, panik terusnya. Waduh, nggak bisa nyalurin. Kata Pak Gubernur bisa,” ujarnya berseloroh. Ia menambahkan, jika dana Rp10–20 triliun itu tersalurkan dengan baik, dampaknya terhadap perekonomian lokal akan sangat besar. “Dana sebesar itu bisa menyebar ke UMKM dan industri lain, tidak hanya di Jakarta tetapi juga ke daerah sekitar,” katanya. Selain suntikan ke Bank Jakarta, Purbaya juga membuka peluang bagi BUMD DKI Jakarta untuk memanfaatkan dana Rp200 triliun yang ditempatkan di Bank Himbara (himpunan bank milik negara). (***)