INDOPOS-Jakarta – Ketua Umum Seniman Intelektual Betawi (SIB), Tahyudin Aditya, mengungkap bahwa pihaknya telah menyelesaikan pembuatan film dokumenter berjudul “Manaqib Syekh Samman”. Karya ini diproduksi dengan dukungan dari Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Barat, sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya tak benda masyarakat Betawi. KLIK VIDEO DI BAWAH UNTUK MENONTON DOKUMENTER MANAQIB SYEKH SAMMAN: “Alhamdulillah dokumenter ini rampung dengan baik. Kami berharap film ini dapat menjadi arsip budaya dan juga media edukasi bagi generasi muda,” ujar Tahyudin. Islam dan Budaya Betawi yang Menyatu Bagi masyarakat Betawi, Islam bukan sekadar agama, tetapi sudah menjadi bagian utuh dari identitas budaya mereka. Nilai-nilai Islam melekat kuat dalam berbagai ritual, tradisi, dan perayaan Betawi. Salah satu tradisi keagamaan yang masih bertahan hingga kini adalah rotib saman atau pembacaan manaqib Syekh Muhammad Saman. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan dan pembacaan kisah hidup serta karomah Syekh Muhammad Saman — seorang wali Allah dan pendiri Tarekat Sammaniyah, yang ajarannya telah menyebar luas ke dunia Islam, termasuk Indonesia. Asal-usul Tarekat Sammaniyah Tarekat Sammaniyah berasal dari Madinah, didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al-Madani Asy-Syafi’i, lebih dikenal sebagai Syekh Muhammad Saman. Ia dikenal sebagai wali besar yang memiliki kedudukan tinggi di antara para ulama dan dianggap sejajar dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pimpinan para wali (quthub). Di Indonesia, ajaran tarekat ini berkembang pesat pada abad ke-19 melalui dua tokoh penting: Syekh Abdurahman Al-Batawi dan KH Abdul Mukni (Guru Mukni). Keduanya berperan besar dalam mengenalkan ajaran tarekat Sammaniyah di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dari Hikayat ke Tradisi Betawi Kitab Manaqib Syekh Muhammad Saman awalnya ditulis oleh Syekh Siddiq bin Umar Khan Al-Madani, kemudian diterjemahkan oleh Muhammad Muhyidin bin Saihabuddin Al-Palimbani dengan judul Hikayat Syekh Muhammad Saman. Hingga kini, naskah tersebut masih banyak ditemukan di kalangan masyarakat Betawi dalam bentuk tulisan Arab Melayu dengan bahasa Melayu klasik. Bagi masyarakat Betawi, pembacaan manaqib Syekh Saman tidak hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan juga sarana spiritual untuk bertawasul, melaksanakan nazar, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di antara warga. Ritual dan Sajian Khas Betawi Dalam pelaksanaan rotib saman, suasana khas Betawi sangat terasa. Sajian sederhana seperti kopi pahit, pisang raja, susu, air putih, dan es kelapa selasih menjadi pelengkap tradisi. Biasanya, ritual ini dilaksanakan ketika seseorang memiliki hajat atau nazar yang telah terkabul, seperti anak lulus sekolah, diterima kerja, atau terbebas dari kesulitan hidup. “Bagi orang Betawi dulu, pembacaan manaqib Syekh Saman adalah bentuk rasa syukur kepada Allah. Kalau ada keinginan tercapai, mereka adakan manaqiban,” ujar salah satu narasumber dalam dokumenter. Dari Jamaah ke Perorangan Dahulu, pembacaan manaqib dilakukan oleh jamaah tarekat Sammaniyah dalam kelompok resmi. Namun kini, pelaksanaannya telah bergeser menjadi kegiatan perorangan atau majelis taklim. Banyak warga melaksanakannya secara mandiri di rumah, dengan mengundang tetangga dan guru pengaji untuk membacakan manaqib. Tradisi ini juga dilakukan secara rutin bulanan oleh majelis taklim ibu-ibu dan bapak-bapak, sebagai sarana menjaga silaturahmi sekaligus memperdalam nilai-nilai keislaman yang diwariskan oleh para wali. Pelestarian Nilai Spiritual dan Budaya Sayangnya, tradisi rotib saman kini mulai tergerus oleh waktu. Praktik spiritual yang dulu menjadi denyut kehidupan masyarakat Betawi kini lebih banyak dijalankan oleh kalangan orang tua. Generasi muda perlahan menjauh, terputus dari akar spiritual dan budaya leluhur. Padahal, menurut budayawan Suaeb Mahbub dan Antayudha Adityas, rotib saman bukan sekadar doa, tetapi juga ritus budaya yang memuat nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial. “Anak muda harus tahu manfaat dan faedahnya. Kalau mereka paham, hatinya akan damai, dan tidak mudah terjerumus dalam hal-hal negatif seperti tawuran,” ujar Suaeb Mahbub. Para budayawan berharap, pemerintah bersama masyarakat dapat bersinergi membuat kebijakan dan fasilitas pendukung agar pelestarian budaya Betawi, termasuk rotib saman, bisa terus hidup di tengah perubahan zaman. Warisan Tak Benda yang Hidup Menurut Joko Mulyono, Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat, dokumenter ini menjadi bagian penting dalam pendataan dan pelestarian warisan budaya tak benda Betawi. Selain kuliner dan seni pertunjukan seperti ondel-ondel atau palang pintu, ritus seperti pembacaan manaqib Syekh Saman merupakan khazanah spiritual yang memperkaya identitas masyarakat Jakarta. “Melalui dokumentasi ini, kami ingin masyarakat Jakarta Barat bisa lebih mengenal kekayaan budaya Betawi yang bukan hanya berupa benda, tapi juga spiritualitas dan tradisi,” ujar Joko Mulyono. Penutup: Menjaga Denyut Rohani Betawi Rotib Saman bukan sekadar lantunan doa. Ia adalah denyut rohani, simpul sejarah, dan jati diri masyarakat Betawi. Kini, di hadapan generasi muda terbentang dua pilihan: membiarkan tradisi ini hilang perlahan, atau merangkulnya sebagai warisan luhur agar jati diri Betawi tak lekang oleh zaman. Narasumber: Suaeb Mahbub, Budayawan Betawi Antayudha Adityas, Budayawan Betawi Joko Mulyono, Kasudin Kebudayaan Jakarta Barat Penanggung Jawab: Mochamad…