INDOPOS-JAKARTA — Ketua Umum Seniman Intelektual Betawi (SIB), Tahyudin Aditya, mengungkap bahwa pihaknya telah menyelesaikan produksi film dokumenter berjudul “Napak Tilas Makam Kumpi”.

Karya ini digarap dengan dukungan Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Barat, sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya tak benda masyarakat Betawi.

Menggali Makna “Kumpi” dalam Budaya Betawi

KLIK VIDEO BERIKUT UNTUK MENONTON DOKUMENTER NAPAK TILAS MAKAM KUMPI 

Film dokumenter ini menelusuri kisah leluhur masyarakat Betawi yang dikenal dengan sebutan “Kumpi”.
Dalam khazanah Betawi, kumpi berarti orang tua dari kakek atau nenek — buyut atau leluhur jauh yang menjadi puncak silsilah keluarga Betawi.
Bagi banyak keluarga Betawi, jejak silsilah mereka sering berhenti di generasi kumpi, menjadikan figur ini simbol penting dalam mengenali asal-usul.

Perjalanan Ziarah di Semanan

Perjalanan dalam film membawa penonton menapaki jejak para leluhur yang dimakamkan di wilayah Kelurahan Semanan, Jakarta Barat.
Makam-makam ini tidak sekadar tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga menjadi penanda sejarah dan identitas masyarakat setempat.

Tujuan pertama adalah Makam Kumpi Nata, yang menurut penuturan warga, berasal dari sosok Raden Arya Winata — seorang penggembala kerbau dari Cirebon yang memiliki kesaktian luar biasa.
Kisah tentang cahaya tasbih yang menyala saat beliau berzikir di malam hari menambah kesan keramat pada makam ini.

Tak jauh dari sana, di pinggir Jalan Daan Mogot, terdapat dua makam lainnya: Kumpi Senan dan Kumpi Dinin.
Keduanya diyakini sebagai kakak beradik keturunan Kong Lufi, tokoh masyarakat yang dihormati di masa lampau.
Meski sejarah tertulis tentang mereka minim, warga sekitar tetap memuliakan makam ini dan rutin berziarah setiap malam Jumat dan malam Minggu.

Menurut penuturan masyarakat, kedua tokoh ini berasal dari Buaran, sebelum kemudian wilayahnya masuk ke dalam Kelurahan Semanan akibat perluasan jalan.
Makam Kumpi Senan dan Kumpi Dinin kini menjadi salah satu situs ziarah yang ramai dikunjungi oleh masyarakat Betawi dan peziarah dari luar daerah.

Kisah Kumpi Rebo, Leluhur Tertua di Semanan

Lebih jauh ke barat, dokumenter ini mengisahkan tentang Kumpi Rebo, yang diyakini sebagai kumpi tertua di Semanan.
Menurut peta topografi Belanda tahun 1902, makam Kumpi Rebo di TPU Semanan sudah tercatat sejak masa itu.
Dahulu wilayah ini merupakan dataran tinggi dengan pohon kepuh besar yang menjadi penanda alami kawasan tersebut.

Kisah Kumpi Rebo berkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Jawa Barat dan Banten.
Dikisahkan bahwa beliau merupakan bagian dari utusan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dari Cirebon yang sempat singgah di kawasan ini dalam perjalanan dakwahnya.

Selain Kumpi Rebo, disebut pula Kumpi Masih dan Kumpi Jenggot sebagai tiga bersaudara yang menjadi leluhur utama masyarakat Tanah Tinggi.
Khusus Kumpi Jenggot, kisahnya hidup di tengah masyarakat Kampung Lamporan, dikenal karena penampakannya yang berjenggot panjang dan bersorban, sering dilihat menaiki kuda dalam cerita rakyat setempat.

Jejak Spiritual dan Tradisi Ziarah

Makam-makam para kumpi ini telah beberapa kali direnovasi — seperti makam Kumpi Jenggot yang dipugar pada tahun 1970, 1984, dan 2023.
Hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat Betawi di Semanan masih memelihara warisan leluhur dengan penuh penghormatan.

Bagi warga Betawi, tradisi ziarah ke makam para kumpi bukan semata ritual keagamaan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap asal-usul.
Menjelang bulan Ramadan, masyarakat masih melaksanakan tradisi “rawahan arwah”, yaitu mendoakan dan menghadiahkan pahala bagi para leluhur yang telah berpulang.

Istilah “keramat” dalam budaya Betawi merujuk pada tempat atau wilayah yang memiliki keistimewaan spiritual, sedangkan “karamah” menunjuk pada keistimewaan yang dimiliki seseorang.
Makam para kumpi sering dianggap keramat karena dipercaya memiliki nilai sejarah, spiritual, dan simbol penghormatan terhadap para pendahulu.

Menumbuhkan Kesadaran Generasi Muda

Melalui film dokumenter Napak Tilas Makam Kumpi, SIB berharap generasi muda Betawi dapat memahami dan menghargai akar sejarahnya.
“Banyak anak muda sekarang yang belum tahu apa itu kumpi. Dokumenter ini bisa memperkaya wawasan mereka tentang sejarah dan budaya Betawi,” ungkap Tahyudin Aditya.

Film ini menjadi pengingat bahwa Semanan bukan sekadar wilayah di tengah hiruk pikuk kota, melainkan permadani sejarah yang menyimpan kisah para leluhur.
Menjaga, mengenal, dan menghormati mereka berarti merawat jati diri masyarakat Betawi.

Penanggung Jawab:

Mochamad Miftahulloh Tamary – Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Joko Mulyono – Kepala Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Barat

Tim Produksi:

Produser Eksekutif: Tahyudin Aditya

Sekretaris: Eva Ismariati

Bendahara: Intan Sari Sinaga

Koordinator & Tim Produksi: Alfi Wildan Faraby, Ramanda Primawan, Khalif Fadhel Husein, Hery Herdian, Muh. Isdar, Febriyano, Fiva Tamara, Tanti Fauziah

Ucapan Terima Kasih:

Seniman Intelektual Betawi, Yayasan Latansa Jakarta, Rumah Gede Aditya’s,
para juru kunci makam Kumpi Rebo, Kumpi Jenggot, Kumpi Nata, dan Kumpi Manan,
Ustaz Nana Suryana (Majelis Ta’lim Al-Mugni),
serta kelompok Qasidah Indira Nada Semanan, Gema Beta Daya, dan Sanggar Seni Budaya Kayu Besar.