INDOPOS-Jakarta — Ketua Umum Seniman Intelektual Betawi (SIB), Tahyudin Aditya, mengungkap bahwa pihaknya telah menyelesaikan produksi film dokumenter berjudul “Rebana Qasidah.”
Karya ini digarap dengan dukungan Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Barat, sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya tak benda masyarakat Betawi.
Film ini mengangkat kisah dan filosofi di balik kesenian rebana qasidah, salah satu bentuk musik religius yang tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat Betawi.
KLIK VIDEO BERIKUT UNTUK MENONTON DOKUMENTER “REBANA QASIDAH”
“Bahasa tertua manusia lahir sebelum adanya kata dan huruf. Ia mengetuk hati, menghidupkan ingatan, hingga membangkitkan rasa. Musik adalah cermin jiwa masyarakatnya,” demikian narasi pembuka dokumenter tersebut.
Di balik hiruk-pikuk kota Jakarta, rebana qasidah hadir sebagai irama penuh makna, menyatukan unsur spiritualitas, sejarah, dan budaya. Dalam berbagai bentuknya, rebana menjadi napas kehidupan masyarakat Betawi, mulai dari rebana biang, rebana ketimpring, hingga rebana qosidah—yang kini paling populer di kalangan majelis taklim ibu-ibu.
Budayawan Betawi Abdul Azis menjelaskan, rebana qasidah awalnya digunakan oleh kelompok pengajian sebagai bentuk ekspresi spiritual yang mengiringi tahlil dan pembacaan maulid. “Awalnya muncul karena kejenuhan saat pengajian yang panjang. Akhirnya mereka mencari cara agar tetap berdzikir tapi dengan irama yang menyenangkan,” ujarnya dalam dokumenter tersebut.
Menurut catatan sejarah yang diungkapkan para tokoh, kesenian rebana masuk ke tanah Betawi sekitar abad ke-18 dibawa oleh Syekh Zainal, seorang penasehat Sultan Banten. Dari sinilah rebana kemudian berkembang dan menyatu dengan kehidupan masyarakat Betawi, hingga lahir berbagai bentuk dan gaya permainan.
Kini, di wilayah Jakarta Barat, rebana qasidah masih sangat lestari.
Ibu-ibu majelis taklim masih rutin berlatih dan tampil dalam berbagai acara keagamaan, mulai dari peringatan maulid hingga hajatan keluarga.
Dalam setiap ketukan rebana tersimpan doa, dan dalam setiap syair terselip ajakan untuk berbuat kebaikan.
“Rebana qasidah umumnya dimainkan sambil duduk menggunakan rebana kecil dari kulit sapi. Permainannya memiliki teknik tersendiri dengan perpaduan suara markis, bas, dan selo yang mengikuti irama lagu,” jelas seorang pelatih dalam film tersebut.
Tahyudin Aditya berharap, kesenian rebana qasidah dapat terus dikembangkan dengan konsep yang lebih dinamis dan kreatif agar bisa dinikmati masyarakat luas, bahkan hingga tingkat internasional.
“Kasidah itu harus dikemas agar bisa dinikmati bukan hanya oleh ibu-ibu pengajian atau warga Jakarta, tapi juga warga dunia,” ungkapnya.
Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat Joko Mulyono menambahkan, dokumenter ini diharapkan dapat memperkaya khasanah budaya Betawi dan menjadi bagian penting dari pelestarian warisan tak benda di ibu kota.
“Melalui dokumentasi seperti ini, masyarakat bisa mengenal lebih dalam kekayaan budaya Betawi, termasuk seni musik religiusnya,” ujarnya.
Di tengah arus globalisasi dan gempuran musik digital, Rebana Qasidah membuktikan bahwa kesenian tradisional masih memiliki ruang dan jiwa dalam kehidupan modern.
Ia bukan sekadar seni, melainkan warisan nilai dan doa yang terus hidup di setiap dentingan rebana.
“Rebana Qasidah adalah simfoni Betawi yang tak lekang oleh zaman. Ia akan terus ditabuh sebagai doa, pengingat, dan pelipur lara—menjaga ruh budaya di tengah kota yang terus berubah.”
Kredit Produksi Dokumenter “Rebana Qasidah”
Narasumber:
Abdul Azis (Budayawan Betawi)
Penanggung Jawab:
Mochamad Miftahulloh Tamary – Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta
Joko Mulyono – Kepala Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Barat
Tim Produksi:
Produser Eksekutif: Tahyudin Aditya
Sekretaris: Eva Ismariati
Bendahara: Intan Sari Sinaga
Koordinator & Tim Produksi: Alfi Wildan Faraby, Ramanda Primawan, Khalif Fadhel Husein, Hery Herdian, Muh. Isdar, Febriyano, Fiva Tamara, Tanti Fauziah
Ucapan Terima Kasih:
Seniman Intelektual Betawi, Yayasan Latansa Jakarta, Rumah Gede Aditya’s, para juru kunci makam keramat Betawi, Majelis Taklim Al-Mugni, Qasidah Indira Nada, Gema Beta Daya, dan Sanggar Seni Budaya Kayu Besar.
