INDOPOS-Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) memperoleh hak siar Piala Dunia 2026. Kabar itu disampaikan anggota DPR RI Komisi VII, Hendry Munief.
Dia pun menyambut baik kabar LPP TVRI menjadi pemegang hak siar pertandingan sepak bola Piala Dunia 2026. “Kami ucapkan selamat buat TVRI mendapatkan hak siar Piala Dunia 2026. Dengan adanya hak siar itu, masyarakat dapat menikmati dengan gratis, serta bisa melaksanakan nonton bareng tanpa dibayangi izin hak siar,” ujar Hendry dalam keterangan tertulisnya seperti yang dikutip dari Antara, Selasa, 30 September 2025.
Meski demikian, Hendry melihat pentingnya langkah perbaikan di tubuh TVRI. Ia mengingatkan manajemen TVRI untuk segera berbenah dengan meningkatkan kualitas pemancar, studio, dan teknologi penunjang siaran.
“Manajemen harus memperbaiki fasilitas pemancar, studio dan teknologi yang sudah berumur, semakin bagus kualitas pemancar TVRI, semakin puas masyarakat,” cetusnya.
Pengamat Meluruskan Pernyataan Anggota DPR yang Keliru
Pernyataan terakhir anggota DPR RI Komisi VII, Hendry Munief yang keliru itu ditanggapi pengamat kebijakan publik dari Institute Development of Policy And Local Partnership (IDP-LP), Riko Noviantoro. “Ada pernyataan beliau yang kurang tepat dan tidak memahami TVRI secara mendalam. Beliau mengatakan, seolah-olah teknologi TVRI tertinggal dari televisi swasta. Padahal, jangan salah, TVRI saat ini sudah dan telah sukses memodernisasi teknologinya. Anda tahu? TVRI di era digitalisasi ini sudah sangat modern teknologinya,” ungkap Riko dalam keterangan resminya, kepada wartawan, Rabu, 01 Oktober 2025.
Dikatakan pengamat kebijakan publik yang mengetahui betul seluk-beluk televisi pemerintah itu, pernyataan Hendry mengenai teknologi (TVRI) yang sudah berumur tidak tepat. “Pernyataan anggota DPR itu kurang tepat. Harusnya, beliau duduk di Komisi VII yang bermitra dengan TVRI sebetulnya harus lebih paham dan mafhum dengan manajemen dan perkembangan LPP TVRI terkini. Mengingat, LPP memainkan peran strategis, yakni penguatan nasionalisme dan ketahanan nasional. Kalau dikatakan teknologi TVRI berumur, itu sangat tidak tepat. Saya melihat, dalam konteks kekinian, teknologi TVRI tidak kalah dengan swasta. Anda tahu? Studio Auditorium TVRI itu merupakan salah satu yang paling modern di antara studio TV lainnya, lho. Coba cek saja kalau tidak percaya,” paparnya.
Malahan, ditandaskan Riko, LPP TVRI ini merupakan stasiun televisi perdana dan yang paling awal bermigrasi dari analog ke digital. TVRI migrasi dari analog ke digital tepatnya, pada tanggal 02 November 2022. Itu sesuai yang diamanatkan UU Ciptakerja. “Sedangkan, televisi swasta baru belakangan. Sekitar setahun setelah TVRI,” sebutnya.
Riko yang merupakan pengamat kebijakan publik yang sangat cermat itu pun menyatakan, keunggulan TVRI lainnya saat ini. “Sekarang ini, TVRI memiliki jumlah pemancar yang lebih banyak daripada televisi swasta. Dan, kalau kita perhatikan lebih jauh secara real, (TVRI) mempunyai coverage (cakupan) penyiaran sampai pelosok negeri di seluruh Indonesia. Bahkan, sepanjang pengamatan saya, banyak para stasiun televisi swasta itu menyewa alat mux pemancar dari TVRI. Kalau tidak, siaran mereka tidak bisa lebih luas,” terang Riko.
Infrastruktur TVRI Lebih Unggul daripada yang Lain
Dari segi infrastruktur, ungkap Riko, TVRI lebih unggul. “Kalau kita perhatikan mendalam, dari segi infrastruktur, LPP TVRI bahkan lebih unggul, lho. Memang, TVRI ini lemah di sisi anggaran program. Mengapa? Karena, TVRI tidak diperbolehkan menarik iklan dari luar. Ya wajar untuk program, ia masih kalah dengan swasta,” tukasnya.
Nah, dilihat dari semua sisi itu, wajar dan sangat layak, TVRI mendapatkan hak siar Piala Dunia 2026. Terkait hal ini, Hendry mengungkap, Komisi VII DPR telah menyetujui tambahan anggaran guna memperkuat layanan TVRI.
Hendry optimistis TVRI akan sukses menayangkan Piala Dunia 2026 dengan kualitas yang baik, tidak hanya memuaskan penonton. Tetapi, juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia. (***)
