INDOPOS-Tangerang – Sebuah video viral di media sosial memicu kemarahan publik setelah menampilkan seorang warga bernama Siti Maesaroh yang diduga menjadi korban begal berkedok debt collector kelompok Mata Elang di kawasan minimarket wilayah Pasar Kemis.

Dalam video tersebut, terlihat korban dipaksa berhenti dan sepeda motornya diduga dirampas oleh sekelompok pria yang mengaku sebagai penagih utang. Peristiwa itu memantik gelombang komentar dari ribuan netizen yang menilai aksi itu lebih menyerupai pembegalan dibanding proses penarikan kendaraan resmi.

https://www.instagram.com/reel/DRPLiimEoC1/?igsh=MTliM3ZibWl3MHdxcw==

Netizen: ‘Mereka Sering Nongkrong Dekat Pos Polisi’

Yang membuat publik semakin geram, sejumlah netizen dalam kolom komentar mengklaim bahwa komplotan pelaku sering terlihat berkumpul di dekat Pos Polisi Tigaraksa. Bahkan beberapa akun menuding kelompok itu memiliki kedekatan dengan oknum Kanit di Polres Tigaraksa.

Komentar warganet antara lain menyebut:

“Itu orang-orangnya sering nongkrong deket pos polisi, kayak ga ada takut-takutnya.”

“Makanya razia begal berkedok DC cuma sandiwara, orang-orangnya pada kenal oknum.”

“Korban makin banyak, tapi kok dibiarkan?”

Tuduhan tersebut memunculkan spekulasi liar di publik mengenai serius atau tidaknya penertiban terhadap debt collector ilegal yang selama ini meresahkan warga Tangerang.

Razia Dinilai Hanya Formalitas?

Sejumlah komentar menyebut operasi penertiban debt collector oleh aparat hanya dianggap sebagai “seremonial” atau “formalitas belaka”. Netizen menduga jika razia dilakukan sungguh-sungguh, komplotan yang sering beroperasi di Pasar Kemis seharusnya bisa ditangkap.

Meski begitu, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Polres Tigaraksa maupun pihak terkait lainnya untuk menanggapi tuduhan-tuduhan tersebut.

Publik Mendesak Penegakan Hukum yang Transparan

Kasus Siti Maesaroh kini menjadi simbol kemarahan warga terhadap maraknya “begal berkedok debt collector”, di mana masyarakat menuntut aparat bertindak tegas, transparan, dan tanpa pandang bulu.

Warga berharap kepolisian segera memberikan klarifikasi resmi, memeriksa kelompok yang disebut-sebut sering mangkal di sekitar Pos Polisi, serta memastikan tidak ada praktik pembiaran terhadap aksi kriminal berkedok penagihan utang.