INDOPOS-Di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau, Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurrofiq bergerak cepat. Ia memimpin langsung apel siaga dan pelepasan 200 personel pemadam darat yang ditugaskan ke daerah-daerah rawan api, khususnya di Kabupaten Rokan Hilir dan Rokan Hulu.

Dengan semangat tinggi, Menteri Hanif menegaskan, kegiatan ini bukan seremoni biasa.

“Kita tidak bisa menunggu lebih lama. Pencegahan harus jadi prioritas utama. Ketika api sudah muncul, pemadaman darat adalah garda terdepan, terutama di lahan gambut yang memerlukan pendekatan teknis khusus,” tegasnya di hadapan para peserta apel, Jumat (25/7/2025).

Titik Api Terus Meningkat, Riau Siaga

Menurut data per Rabu (23/7/2025), titik kebakaran aktif masih menyala di kawasan gambut dan mineral di Rokan Hilir dan Rokan Hulu. Situasi ini berpotensi menyebarkan asap secara luas jika tidak segera ditangani.

Sinyal peringatan dini dari BMKG juga menunjukkan peningkatan hotspot di Riau dalam periode 23-27 Juli 2025, dengan potensi berlanjut hingga awal Agustus 2025. Hal ini memperkuat urgensi pengiriman tim pemadam ke lapangan.

Target Indonesia

Pelepasan tim ini menjadi bagian dari strategi nasional pengendalian karhutla, yang terintegrasi dengan target penurunan emisi gas rumah kaca melalui dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC).

Indonesia menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89% secara mandiri dan hingga 43,2% dengan dukungan internasional pada 2030, menuju net zero emission (NZE) pada 2060.

Pengendalian karhutla dinilai sebagai salah satu kontributor terbesar dalam mencapai target tersebut. Untuk itu, Menteri Hanif juga menginstruksikan penguatan sistem deteksi dini dan patroli lapangan, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, TNI/Polri, masyarakat, dan sektor swasta.

Kolaborasi Lintas Sektor

Apel Siaga ini dihadiri oleh Gubernur Riau, pejabat tinggi KLH/BPLH, serta perwakilan perusahaan swasta mitra strategis seperti APP Sinar Mas, PT RAPP, PT Musim Mas, PT Perkebunan Nusantara IV Regional 3, dan PT Pertamina Hulu Rokan.

Tim yang diberangkatkan merupakan gabungan personel pemerintah dan unit tanggap darurat perusahaan mitra. Menteri Hanif menegaskan bahwa ini bukan tim terakhir yang akan dikerahkan.

“Saya tegaskan, ini bukan kloter terakhir. Tim berikutnya akan dikirim. Kita harus hadir sampai titik api terakhir padam. Pantang pulang sebelum padam. Riau harus bebas asap,” kata Menteri Hanif penuh semangat.

Di akhir arahannya, Menteri Hanif mengingatkan, tantangan karhutla ke depan akan semakin berat, terutama dengan fenomena El Nino yang bisa memperparah kekeringan dan memperluas potensi kebakaran.

KLH/BPLH berharap langkah terpadu ini mampu menekan risiko kabut asap, menjaga kualitas udara dan kesehatan masyarakat, serta melindungi ekosistem hutan dan gambut secara berkelanjutan.