INDOPOS-JAKARTA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan mitra strategis menyelenggarakan Jakarta Film Summit (JFS) x Jakarta Economic Forum (JEF) 2026 pada 20–21 Oktober 2026 di Park Hyatt Jakarta.
Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, mengatakan, pengembangan ekonomi kreatif termasuk industri perfilman, menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi perekonomian Jakarta menuju sektor jasa yang semakin dominan.
“Kolaborasi ini bertujuan memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong industri film menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Jakarta,” ujar Iwan, Selasa (20/10/2026).
Iwan menjelaskan, mengusung tema “Advancing Creative Economy to Elevate Jakarta’s Global Competitiveness”, JEF 2026 mempertemukan pemerintah, lembaga keuangan, investor, sineas, dan pelaku industri untuk membahas penguatan ekonomi kreatif serta peningkatan daya saing Jakarta di tingkat global.
“Sejak diinisiasi pada 2023, JEF terus dikembangkan sebagai forum pertukaran gagasan dan perumusan masukan kebijakan guna mendukung pertumbuhan ekonomi Jakarta yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan,” katanya.
Menurutnya, pengembangan ekonomi kreatif dinilai semakin relevan seiring dengan meningkatnya kontribusi sektor jasa terhadap perekonomian Jakarta. Pangsa sektor jasa tercatat naik dari 53,95 persen pada 2019 menjadi 55,87 persen pada 2025.
“Industri perfilman memiliki rantai nilai yang luas dan melibatkan berbagai sektor usaha. Aktivitasnya mencakup penulisan skenario, produksi, pascaproduksi, hingga distribusi film,” jelasnya.
“Ekosistem tersebut turut menggerakkan usaha penyedia peralatan, kostum, katering, transportasi, akomodasi, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal,” sambungnya.
Adapun agenda hari pertama JFS x JEF 2026 berfokus pada penguatan kebijakan dan kesiapan Jakarta dalam mendukung pertumbuhan industri perfilman.
Sejumlah isu strategis dibahas, antara lain pengembangan kota yang ramah terhadap produksi film, penyederhanaan perizinan, pemberian insentif produksi, serta pemanfaatan aset daerah sebagai lokasi dan fasilitas produksi.
Selain membahas aspek kebijakan dan investasi, JEF 2026 juga membuka ruang partisipasi bagi akademisi, generasi muda, serta pelaku usaha melalui berbagai kegiatan pendukung.
“Kegiatan tersebut meliputi penayangan karya pemenang Lomba Karya Tulis dan Lomba Artikel JEF 2026, pemutaran film pendek hasil kompetisi Jakarta Youth Film Festival (JYFF), serta mini talkshow mengenai ekosistem perfilman,” pungkasnya.
