INDOPOS-JAKARTA — Menyongsong usia 500 tahun atau lima abad Kota Jakarta, Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta mendorong agar pembangunan Jakarta sebagai kota global tetap berpijak pada nilai agama, akhlak, dan peradaban.
Gagasan tersebut mengemuka dalam rapat Dewan Pertimbangan MUI DKI Jakarta yang dihadiri sejumlah tokoh ulama, pimpinan organisasi masyarakat (ormas) Islam, serta sejumlah pemangku kepentingan di Jakarta.
Anggota Dewan Pertimbangan MUI DKI Jakarta, Ustaz Eki Pitung atau M. Rifqi, mengusulkan agar MUI DKI Jakarta memiliki tagline khusus dalam menyongsong 500 tahun usia Jakarta.
Tagline yang diusulkan adalah “Jakarta Kota Global yang Religius dan Beradab.”
Menurut Eki, tagline tersebut dapat menjadi rambu moral dalam perjalanan Jakarta menuju kota global. Kemajuan ekonomi, teknologi, perdagangan, dan hubungan internasional dinilai perlu berjalan seiring dengan penguatan nilai agama dan akhlak masyarakat.
“Jakarta boleh menjadi kota global, tetapi jangan sampai kehilangan identitas sebagai kota yang religius dan beradab,” ujar Eki dalam rapat Dewan Pertimbangan MUI DKI Jakarta.
Eki menilai perubahan Jakarta menjadi kota global akan membawa konsekuensi berupa semakin derasnya arus budaya, informasi, teknologi, dan bisnis dari berbagai negara.
Kondisi tersebut, kata dia, perlu diantisipasi agar perkembangan zaman tidak mengikis nilai moral dan keagamaan masyarakat, khususnya generasi muda.
Salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah perkembangan teknologi digital dan media sosial seperti TikTok dan YouTube. Arus informasi yang sangat cepat membuat berbagai konten dapat menyebar luas dalam hitungan detik.
Tidak seluruh konten tersebut, menurut Eki, dapat dipastikan kebenarannya. Sebagian bisa berupa informasi yang provokatif, rekayasa, maupun konten yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Karena itu, MUI DKI Jakarta dinilai memiliki posisi strategis untuk ikut menjaga akhlak, adab, dan nilai keagamaan masyarakat di tengah perubahan Jakarta menuju kota global.
Eki berharap MUI DKI Jakarta dapat semakin progresif dan peka terhadap perubahan zaman dengan membangun visi keagamaan yang mampu menjawab tantangan masyarakat modern.
“Dengan slogan Jakarta Kota Global yang Tetap Religius dan Beradab, mudah-mudahan ini menjadi rambu-rambu bagi kita semua, baik umat Islam maupun masyarakat yang beragama di Jakarta,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Ketua Umum MUI DKI Jakarta Gus Faiz, Ketua DPRD DKI Jakarta Ustaz Dr. Suhud, Ketua KADIN DKI Jakarta Nadia, Kepala Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta, pimpinan Dewan Pertimbangan MUI DKI Jakarta, serta jajaran pengurus MUI DKI Jakarta.
Para tokoh tersebut membahas pentingnya kolaborasi antara ulama, pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan elemen masyarakat dalam mempersiapkan Jakarta menghadapi fase baru sebagai kota global.
Menurut Eki, status Jakarta sebagai kota global tidak semata-mata harus diukur dari kemajuan infrastruktur dan aktivitas ekonomi. Kualitas manusia, kehidupan sosial, toleransi, moralitas, serta penghormatan terhadap nilai agama juga menjadi bagian penting dari identitas sebuah kota.
Ia menegaskan, modernisasi tidak seharusnya dipertentangkan dengan nilai keagamaan. Sebaliknya, kemajuan teknologi dan ekonomi perlu diarahkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa menghilangkan adab dan nilai kemanusiaan.
“Jakarta menuju lima abad harus menjadi kota global yang maju, tetapi tetap memiliki karakter, akhlak, dan peradaban,” ujarnya.
MUI DKI Jakarta diharapkan dapat mengambil peran strategis dalam memberikan panduan moral dan keagamaan di tengah dinamika Jakarta yang semakin terbuka terhadap pengaruh global.
Dengan demikian, momentum 500 tahun Jakarta tidak hanya menjadi perayaan sejarah, tetapi juga menjadi titik penting untuk membangun masa depan Jakarta sebagai kota global yang modern sekaligus tetap religius dan beradab.
Musyawarah Kerja Daerah (MUKERDA) MUI DKI Jakarta digelar selama dua hari di Hotel Grand Santika, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, dengan dihadiri Ketua DPRD DKI Jakarta Dr. Suhud, Ketua KADIN Nasional Nadia, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, jajaran Dewan Pertimbangan MUI DKI Jakarta, serta para pengurus MUI dari lima wilayah se-DKI Jakarta. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi, mengevaluasi program kerja sekaligus menyusun agenda ke depan, serta meningkatkan sinergi antara MUI, pemerintah, dunia usaha dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kerukunan, memperkuat kehidupan keagamaan dan menghadirkan kontribusi nyata bagi kemaslahatan umat di Jakarta.
