INDOPOS-Banyumas — Di tengah proses hukum yang tengah menjadi perhatian publik, sejumlah cerita mengenai kehidupan almarhum Sutrimo (42) kembali disampaikan oleh kerabat dekatnya. Salah satu hal yang diceritakan keluarga adalah hubungan Sutrimo dengan Febrie Adriansyah, yang menurut pihak keluarga telah terjalin selama bertahun-tahun sejak sekitar 2008.
<span;>Keterangan tersebut disampaikan oleh kerabat dekat Sutrimo berdasarkan cerita dan pengalaman yang mereka ketahui selama almarhum bekerja sebagai asisten rumah tangga sekaligus penjaga rumah Febrie Adriansyah.
Menurut pihak keluarga, hubungan keduanya tidak hanya sebatas hubungan pekerjaan. Keluarga menilai terdapat kedekatan dan perhatian yang diberikan Febrie kepada Sutrimo, terutama ketika almarhum menghadapi masalah kesehatan.
Kerabat Sutrimo menuturkan, setelah pandemi COVID-19, kondisi kesehatan almarhum mengalami penurunan. Sutrimo disebut menderita diabetes dan mengalami infeksi pada bagian punggung sehingga harus menjalani perawatan medis serta rawat inap dalam waktu yang cukup lama.
Dalam kondisi tersebut, menurut kesaksian keluarga, biaya pengobatan Sutrimo mendapat bantuan dari Febrie Adriansyah.
Keluarga menyebut, setiap kali terdapat kebutuhan administrasi atau biaya perawatan rumah sakit, Sutrimo atau keluarganya menyampaikan kebutuhan tersebut. Menurut mereka, bantuan kemudian diberikan untuk mendukung proses pengobatan.
Kerabat juga mengatakan bahwa dalam sejumlah kesempatan, uang yang diberikan disebut lebih dari kebutuhan pengobatan saat itu sehingga sebagian dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga Sutrimo di kampung halaman.
Setelah menjalani perawatan, Sutrimo disebut sempat berusaha kembali mandiri. Menurut kerabat terdekat, almarhum pernah bekerja sebagai kurir selama beberapa bulan karena merasa tidak nyaman apabila terus menerima bantuan tanpa bekerja.
Namun, kondisi kesehatannya kembali mengalami persoalan setelah Sutrimo mengalami luka pada kaki. Keluarga mengatakan kondisi tersebut kemudian memburuk dan berujung pada tindakan medis berupa amputasi pada bagian jari kaki.
Ketika kondisi Sutrimo dinilai membaik pada sekitar akhir 2022, keluarga menyebut Febrie meminta almarhum kembali bekerja di Jakarta.
Salah seorang kerabat mengingat bahwa Sutrimo sempat merasa khawatir karena kondisi fisiknya tidak lagi sama seperti sebelumnya. Menurut penuturan keluarga, Febrie kemudian menyampaikan agar Sutrimo kembali setelah kondisinya membaik.
Kerabat dekat juga menceritakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, kondisi kehidupan Sutrimo disebut mengalami perubahan. Pada Juni 2025, Sutrimo disebut sempat pulang ke kampung halaman dan melakukan renovasi terhadap rumah yang ditempatinya.
Keluarga juga menyebut adanya pekerjaan pelebaran akses jalan di depan rumah tersebut.
Sutrimo meninggal dunia pada 23 Juli 2026. Peristiwa yang menyebabkan kematiannya saat ini masih menjadi bagian dari proses penanganan aparat penegak hukum.
Berbagai informasi mengenai kronologi maupun penyebab kematian almarhum perlu menunggu hasil penyelidikan dan pemeriksaan resmi dari pihak berwenang.
Dalam konteks tersebut, keterangan mengenai hubungan Sutrimo dengan Febrie Adriansyah yang disampaikan kerabat terdekatnya merupakan salah satu perspektif dari pihak yang mengenal kehidupan almarhum. Keterangan tersebut tidak dengan sendirinya menjadi kesimpulan mengenai perkara hukum yang sedang berjalan.
Keluarga berharap proses hukum dapat berjalan secara transparan dan seluruh fakta mengenai peristiwa yang menimpa Sutrimo dapat terungkap berdasarkan bukti serta hasil penyelidikan aparat yang berwenang.
Kesaksian para kerabat tersebut sekaligus memberikan gambaran mengenai sisi kehidupan Sutrimo yang mereka kenal selama bertahun-tahun—termasuk hubungan pekerjaan, kondisi kesehatan, serta bantuan yang menurut mereka pernah diterima almarhum selama menjalani masa sulit. (***)
