INDOPOS — Pernyataan menarik datang dari astronot misi Artemis II, Christina Koch, yang menggambarkan Bumi seperti “sekoci” saat dipandang dari luar angkasa. Ungkapan tersebut memicu perbincangan luas, termasuk dikaitkan dengan ayat-ayat dalam Al-Qur’an.

‎Dalam keterangannya, Koch menyebut bahwa dari perspektif luar angkasa, Bumi tampak kecil, rapuh, namun menjadi satu-satunya tempat aman bagi kehidupan—ibarat sekoci di tengah luasnya samudra kosmik. Pernyataan ini sejalan dengan pandangan sejumlah astronot lain yang menyebut Bumi sebagai “rumah ternyaman” bagi manusia.

‎Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah warganet menilai deskripsi itu memiliki kemiripan dengan penjelasan dalam Al-Qur’an mengenai Bumi sebagai tempat tinggal yang nyaman dan layak huni.

‎Dalam beberapa ayat, seperti QS. Nuh: 19, QS. Al-Baqarah: 22, dan QS. Thaha: 53, disebutkan bahwa Allah menjadikan Bumi sebagai “hamparan” (firasya), yakni tempat yang luas, mudah dijelajahi, serta mendukung kehidupan manusia. Konsep ini oleh sebagian pihak diinterpretasikan sebagai gambaran Bumi yang aman dan stabil, layaknya “geladak sekoci” bagi makhluk hidup.

‎Pengamat menilai, kesesuaian deskripsi tersebut menunjukkan bagaimana perspektif ilmiah modern kerap menemukan titik temu dengan teks-teks keagamaan. Meski demikian, para ahli mengingatkan agar interpretasi semacam ini tetap dipahami secara proporsional, baik dari sisi sains maupun tafsir agama.

‎Misi Artemis II sendiri merupakan bagian dari program ambisius NASA untuk mengembalikan manusia ke sekitar Bulan, sekaligus menjadi langkah awal menuju eksplorasi lebih jauh, termasuk ke Mars. Perspektif para astronot dari luar angkasa pun kerap memberikan sudut pandang baru tentang pentingnya menjaga Bumi sebagai satu-satunya rumah bagi umat manusia.