INDOPOS-JAKARTA – Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong penguatan industri perfilman melalui perluasan akses pembiayaan, penyederhanaan perizinan, dan penguatan basis data industri.
Komitmen tersebut menjadi hasil utama hari kedua sekaligus penutup Jakarta Film Summit (JFS) x Jakarta Economic Forum (JEF) 2026 di Hotel Park Hyatt, Jakarta, Selasa (21/10).
Forum yang mempertemukan regulator, perbankan, lembaga penjaminan, investor, dan pelaku industri ini membahas pengembangan skema pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik industri film, penguatan mitigasi risiko, serta pemanfaatan data untuk menilai potensi komersial dan mendorong investasi.
Kepala Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menegaskan bahwa industri film memiliki dampak ekonomi yang melampaui sektor hiburan.
“Industri film menciptakan peluang ekonomi yang jauh lebih luas dari sekadar hiburan,” ujar Iwan, Rabu (22/10).
Menurutnya, aktivitas perfilman mampu menggerakkan berbagai sektor, mulai dari transportasi, perhotelan, kuliner, pariwisata, teknologi digital, hingga UMKM.
“Keberhasilan sejumlah film nasional juga menunjukkan besarnya potensi kekayaan intelektual dalam menciptakan nilai tambah ekonomi dan membuka lapangan kerja bagi talenta lokal,” katanya.
Iwan mengatakan, sebagai tindak lanjut forum, para pemangku kepentingan menyepakati Joint Communiqué yang memuat tiga prioritas penguatan industri film Jakarta.
“Nantinya kita akan memperluas akses pembiayaan berbasis potensi kekayaan intelektual, menyederhanakan perizinan produksi film, serta memperkuat ekosistem dan basis data industri perfilman,” jelas Iean.
Komitmen tersebut ditandatangani oleh Iwan Setiawan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, dan peserta JEF Policy Lab dalam seremoni penutupan JFS x JEF 2026.
Dalam kesempatan yang sama, diumumkan pemenang Lomba Karya Tulis dan Lomba Artikel JEF 2026, serta penandatanganan kerja sama strategis antara Pemprov DKI Jakarta dan Netflix untuk rencana produksi sejumlah film di Jakarta.
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyebut Jakarta memiliki modal kuat untuk menjadi pusat industri film di Asia Tenggara. Dengan jumlah penduduk sekitar 11 juta jiwa dan 71,26 persen di antaranya berada pada kelompok usia produktif, Jakarta dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan talenta kreatif.
“Jakarta memiliki modal yang sangat kuat untuk berkembang menjadi pusat industri film di kawasan Asia Tenggara,” ujar Rano.
Ia berharap kemitraan dengan industri global dapat mendorong transfer pengetahuan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta menciptakan lapangan kerja baru bagi generasi muda.
Ke depan, BI Provinsi DKI Jakarta akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah, industri keuangan, komunitas kreatif, investor, dan mitra internasional untuk menjadikan industri kreatif sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Inisiatif seperti Jakarta Youth Film Festival (JYFF) juga diharapkan memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global sekaligus pusat ekonomi kreatif regional.
