INDOPOS-JAKARTA — Penyelenggaraan Pemilihan Abang dan None (Abnon) Jakarta 2026 menuai sorotan dari sejumlah tokoh dan pemerhati budaya Betawi. Mereka mendesak agar penyelenggaraan ajang tersebut dievaluasi secara menyeluruh, terutama terkait representasi identitas, pemahaman budaya Betawi, serta mekanisme seleksi dan penjurian.
Salah satu desakan disampaikan H. Dedy Syukur, anggota Dewan Adat Betawi, yang meminta agar penyelenggaraan Abang None Jakarta tidak hanya dilihat sebagai kompetisi pencarian duta pariwisata, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga identitas dan kebudayaan masyarakat Betawi.
Menurutnya, evaluasi diperlukan agar ajang Abnon benar-benar mampu menjalankan fungsi sebagai representasi Jakarta yang memiliki akar kuat pada budaya Betawi.
<span;>Sorotan serupa disampaikan Dr. Syaiful Amri, budayawan Betawi dan mantan anggota Dewan Kesenian Jakarta. Ia menyampaikan sejumlah poin yang menurutnya perlu menjadi perhatian dalam penyelenggaraan Abang None Jakarta ke depan.
Pertama, Syaiful menyatakan bahwa aspek agama perlu mendapatkan perhatian sejak proses penerimaan peserta.
“Penerimaan Abnon dari awal harus beragama Islam karena Betawi dikenal dengan taat beragama,” ujarnya.
Kedua, menurut Syaiful, peserta Abang None tidak cukup hanya mengenal budaya Betawi pada aspek permukaannya. Mereka harus memiliki pemahaman yang lebih mendalam mengenai sejarah, nilai, tradisi, adat istiadat dan karakter masyarakat Betawi.
“Abnon harus paham budaya Betawi bukan hanya kulitnya saja, tetapi dalam kedalamannya,” katanya.
Ketiga, ia menekankan bahwa Abang None harus memiliki kemampuan untuk menjaga, mengembangkan sekaligus melestarikan kebudayaan Betawi.
Menurutnya, posisi Abang dan None tidak semata-mata menjadi simbol atau gelar, melainkan membawa tanggung jawab untuk memperkenalkan Jakarta sekaligus mempertahankan identitas budaya yang menjadi bagian penting dari sejarah kota tersebut.
Keempat, Syaiful meminta agar seluruh anggota dewan juri memiliki pemahaman yang memadai mengenai budaya Betawi.
“Semua juri harus paham tentang budaya Betawi,” tegasnya.
Kelima, ia meminta Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta lebih terbuka melibatkan berbagai unsur yang benar-benar memahami kebudayaan Betawi dalam penyelenggaraan Abang None.
“Dinas Pariwisata harus melihat semua unsur yang paham tentang budaya Betawi,” ujarnya.
Dinilai Perlu Evaluasi Menyeluruh
<span;>Desakan evaluasi juga datang dari Ustadz Eka Jaya, aktivis Betawi. Ia menilai penyelenggaraan Abang None Jakarta perlu dievaluasi, termasuk kinerja perangkat daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Eka Jaya bahkan mendorong agar evaluasi tidak berhenti pada mekanisme pemilihan Abang None, tetapi juga menyentuh aspek kebijakan dan pengelolaan program oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) DKI Jakarta.
Kritik para tokoh tersebut terutama menyangkut persoalan representasi identitas dan budaya Betawi dalam sebuah ajang yang selama ini diposisikan sebagai duta Jakarta.
Secara resmi, Pemprov DKI menyebut Abang None sebagai wadah pembinaan generasi muda sekaligus bagian dari upaya melestarikan budaya Betawi. Pada pembukaan rangkaian Abang None 2026, Pemprov DKI juga menyatakan bahwa ajang tersebut diarahkan untuk menyiapkan duta budaya menuju momentum 500 tahun Jakarta.
Sementara itu, laman resmi Abang None Jakarta mencantumkan Kebudayaan Betawi sebagai salah satu materi pembekalan bagi para finalis. Materi tersebut disebut diberikan oleh ahli budaya Betawi.
Karena itu, kritik yang muncul kemudian berfokus pada sejauh mana pemahaman budaya tersebut benar-benar menjadi bagian substansial dalam proses seleksi, pembekalan dan penilaian peserta.
Herve Pierre Sidarta dan Citra Terpilih
Kritik tersebut mencuat setelah Herve Pierre Sidarta dari Jakarta Selatan dan Citra dari Jakarta Timur resmi terpilih sebagai Abang dan None Jakarta 2026 dalam malam final di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).
Sebanyak 36 pasangan dari lima kota administrasi dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu mengikuti malam final tersebut.
Hasil pemilihan menetapkan Herve Pierre Sidarta sebagai Abang Jakarta 2026 dan Citra sebagai None Jakarta 2026. Wakil I diraih Muhammad Hamiz Ghani dari Jakarta Barat dan Nadya Ramadhita dari Kepulauan Seribu, sedangkan Wakil II diraih Muhammad Zaeralsyah dari Kepulauan Seribu dan Thana Mutia dari Jakarta Timur.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, dalam malam final tersebut, menegaskan bahwa Abang None bukan sekadar persoalan selempang atau gelar. Menurutnya, para pemenang membawa nama Jakarta dan memiliki peran untuk memperkenalkan budaya, kreativitas serta potensi Jakarta kepada masyarakat nasional maupun dunia.
Di sisi lain, sejumlah tokoh Betawi meminta agar makna tersebut diterjemahkan lebih jauh melalui penguatan identitas budaya dalam proses seleksi.
Bagi mereka, Abang None Jakarta semestinya tidak hanya mampu tampil sebagai representasi Jakarta yang modern, tetapi juga memahami akar budaya Betawi sebagai salah satu fondasi sejarah dan identitas Jakarta.
Desakan evaluasi tersebut sekaligus menjadi masukan agar penyelenggaraan Abang None pada tahun-tahun mendatang melibatkan lebih banyak unsur kebudayaan Betawi, memperkuat materi budaya, meningkatkan kapasitas dewan juri, serta memastikan para finalis memiliki pemahaman yang lebih mendalam mengenai budaya yang mereka representasikan.
Dengan demikian, ajang Abang None tidak hanya menghasilkan figur yang mampu mempromosikan pariwisata Jakarta, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menjaga keberlanjutan kebudayaan Betawi di tengah transformasi Jakarta menuju kota global.
