INDOPOS-JAKARTA — Sejumlah mahasiswa dan alumni Universitas Indonesia (UI) mendatangi kediaman keluarga almarhum Bambang, korban dalam kericuhan yang terjadi di kawasan Pejompongan, Jakarta. Kedatangan tersebut dilakukan sebagai bentuk belasungkawa sekaligus solidaritas kepada keluarga korban.
Dalam pertemuan dengan keluarga, perwakilan mahasiswa dan alumni UI menyampaikan duka mendalam serta dukungan agar keluarga mendapatkan keadilan atas peristiwa yang menewaskan Bambang.
Ketua BEM FIA UI, Imam Mahendra, mengatakan pihaknya bersama mahasiswa, alumni, dan sivitas akademika UI turut menyampaikan simpati dan belasungkawa kepada keluarga korban.
Menurut Imam, keluarga korban berusaha menerima dan mengikhlaskan kepergian Bambang. Namun, di sisi lain, keluarga tetap berharap proses hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dapat dilakukan secara tegas dan transparan.
«“Keluarga mencoba untuk merelakan, ridho, mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Tapi tentunya tuntutan-tuntutan keadilan, mengharapkan ditindak tegas oleh aparat yang berwenang,” ujar Imam.»
Imam juga menyampaikan sejumlah hal yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum. Ia menilai terdapat dugaan pembiaran terhadap tindakan kekerasan dalam rangkaian kericuhan tersebut.
Ia membandingkan penanganan terhadap massa aksi dengan penindakan terhadap pihak yang diduga melakukan perusakan fasilitas umum.
Menurutnya, aparat telah menangkap sejumlah tersangka terkait perusakan fasilitas umum, sehingga ia mempertanyakan penanganan terhadap dugaan kekerasan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.
“Ini bukan masalah minim fasilitas ataupun itu. Ini tentang ketersediaan dan keinginan aparat untuk menindaki ini secara serius,” katanya.
Soroti Informasi Identitas Korban
Selain persoalan dugaan kekerasan, Imam juga mengungkapkan informasi yang diperoleh pihaknya dari keluarga terkait proses evakuasi Bambang.
Menurut keterangan yang diterima, Bambang disebut masih dalam keadaan hidup ketika dibawa ke rumah sakit dan sempat mendapatkan upaya pertolongan. Namun, korban kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Imam mengatakan pihak keluarga juga mempertanyakan persoalan identitas korban ketika berada di rumah sakit.
“Di rumah sakit itu telah diketahui identitas beliau atas nama almarhum Bapak Bambang. Sedangkan di sana identitasnya tidak ditemukan,” ujarnya.
Ia menegaskan persoalan tersebut perlu diklarifikasi dan diusut berdasarkan fakta serta bukti yang ada. Pihaknya meminta aparat tidak berhenti pada penanganan kasus perusakan fasilitas umum, tetapi juga mengusut dugaan kekerasan yang menyebabkan korban meninggal dunia.
ILUNI UI FIB dan BEM FIB UI: Ini Persoalan Kemanusiaan
Sementara itu, Ketua Policy and Cultural Studies ILUNI UI FIB, Theo, bersama Ketua BEM FIB UI Muhammad Lintang Kharisma Azzim, juga menyampaikan keprihatinan atas peristiwa tersebut.
Theo mengatakan kedatangan para alumni UI dan BEM FIB UI ke rumah korban merupakan bentuk empati serta solidaritas terhadap keluarga.
“Kami dari alumni UI bersama dengan BEM FIB UI hadir ke kediaman korban sebagai bentuk empati. Kami menyampaikan belasungkawa dan dukacita yang mendalam terhadap keluarga korban,” kata Theo.
Menurutnya, mahasiswa UI melihat kasus tersebut bukan semata-mata sebagai persoalan demonstrasi atau politik, melainkan sebagai persoalan kemanusiaan.
Lintang menegaskan mahasiswa FIB UI mengecam tindakan penyisiran dan aksi main hakim sendiri apabila dilakukan tanpa proses hukum yang jelas.
“Kami mengecam tentunya tindakan penyisiran dan main hakim sendiri tanpa kepastian hukum, proses kepastian hukum yang jelas,” ujarnya.
Ia menilai tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil berpotensi mencederai prinsip supremasi hukum. Karena itu, pemerintah dan aparat diminta memberikan sanksi tegas apabila ditemukan pelanggaran.
Desak Pemerintah dan DPR Buka Pengusutan
Lintang juga meminta pemerintah mengusut secara menyeluruh peristiwa tersebut serta menyampaikan informasi yang benar kepada publik.
Ia turut mendorong lembaga-lembaga negara, termasuk Komisi III DPR RI dan Komnas HAM, menjalankan fungsi pengawasan sesuai kewenangannya.
Menurut dia, transparansi diperlukan agar tidak muncul informasi yang justru mengaburkan fakta mengenai peristiwa yang menewaskan korban.
“Menuntut kepada kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini secara sebenar-benarnya,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat sipil, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat untuk tetap saling menjaga serta memberikan dukungan kepada keluarga korban.
Minta Kekerasan Tak Terulang
Baik mahasiswa maupun alumni UI menilai peristiwa tersebut harus menjadi momentum untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Theo menyatakan ILUNI UI FIB akan terus memberikan dukungan dan solidaritas terhadap mahasiswa serta keluarga korban selama perjuangan tersebut berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.
“Kami sebagai alumni tentunya sangat mendukung dan bersolidaritas terhadap teman-teman mahasiswa,” ujarnya.
Sementara itu, Lintang mengajak masyarakat sipil untuk tidak takut menyuarakan kebenaran dan tetap menjaga ruang aman di tengah situasi yang dinilai penuh ketegangan.
“Kami mengajak teman-teman masyarakat sipil untuk tidak takut dan tidak terbawa dalam iklim ketakutan,” katanya.
Para mahasiswa dan alumni UI berharap proses hukum terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut dilakukan secara transparan, profesional, dan berdasarkan bukti. Mereka juga meminta agar tidak ada pihak yang kebal hukum apabila terbukti melakukan kekerasan.
Kasus ini kini menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat yang mendesak agar kematian Bambang tidak berhenti sebagai catatan dalam rangkaian kericuhan demonstrasi, tetapi diusut secara menyeluruh untuk menemukan fakta dan pihak yang bertanggung jawab. (*)
