INDOPOS-BANYUMAS, Jawa Tengah — Warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, meminta penanganan kasus kematian almarhum Sutrimo tetap berada pada jalur pembuktian ilmiah. Mereka berharap seluruh pihak, termasuk keluarga dan tim kuasa hukum, memberikan ruang kepada penyidik serta tim dokter forensik untuk menuntaskan proses pemeriksaan secara objektif.
Bagi masyarakat, kepastian mengenai penyebab kematian Sutrimo harus diperoleh melalui fakta medis dan hasil pemeriksaan laboratorium, bukan melalui spekulasi yang berkembang di ruang publik.
Perwakilan warga Desa Wlahar saat ditemui tim media, Rabu (2/9/2026), menyatakan dukungannya terhadap proses penyidikan yang dilakukan jajaran Polda Metro Jaya bersama Tim Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) serta tim forensik.
Menurut warga, pemeriksaan toksikologi, DNA, histopatologi, hingga organ tubuh almarhum merupakan bagian penting yang harus ditunggu hasilnya sebelum kesimpulan mengenai penyebab kematian ditarik.
”Kasihan keluarga almarhum kalau persoalan ini melebar ke mana-mana atau menjadi konsumsi isu liar. Kami warga desa mendukung penuh pihak kepolisian dan tim forensik yang sedang bekerja. Kami hanya ingin pengacara dan tim pendamping fokus mengawal serta menunggu hasil resmi ekshumasi dari polisi. Jangan sampai fokusnya terpecah,” ujar salah satu warga.
Sebelumnya, proses pembongkaran makam atau ekshumasi dan autopsi ulang jenazah Sutrimo telah dilakukan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bantaragung, Desa Wlahar.
Proses tersebut dipimpin langsung oleh Prof. Dr. dr. Ahmad Yudianto, Sp.F.M.(K), S.H., M.Kes. (Prof. Yudi) selaku Ketua Tim Dokter Forensik Gabungan dari Universitas Airlangga (Unair) dan kedokteran kepolisian.
Ekshumasi menjadi salah satu tahapan penting dalam mengungkap misteri kematian Sutrimo, khususnya karena pemeriksaan tidak hanya berhenti pada kondisi fisik jenazah, tetapi juga dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel.
Dalam pemeriksaan awal, tim forensik disebut menemukan indikasi yang mengarah pada dugaan asfiksia, yakni kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan oksigen. Namun, indikasi tersebut belum dapat dijadikan sebagai kesimpulan final mengenai penyebab kematian.
Prof. Yudi menegaskan bahwa kepastian penyebab kematian masih harus menunggu hasil pemeriksaan lanjutan, termasuk toksikologi, histopatologi, DNA, serta pemeriksaan laboratorium forensik lainnya.
Karena itu, masyarakat menilai setiap kesimpulan sebaiknya menunggu hasil pemeriksaan ilmiah yang dikeluarkan secara resmi oleh pihak berwenang.
Warga Desa Wlahar berharap proses tersebut dapat berjalan secara transparan dan profesional tanpa dipengaruhi tekanan maupun narasi yang belum memiliki dasar pembuktian.
”Kami tidak ingin mendahului hasil dokter. Kalau memang ada sesuatu, biarkan hasil pemeriksaan ilmiah yang membuktikan. Kalau tidak ada, juga harus disampaikan secara terbuka. Yang paling penting keluarga dan warga disini mendapatkan kepastian,” Tandasnya. (***)
