INDOPOS-Jakarta – Kepedulian terhadap sesama menjadi semangat utama lahirnya FASTA Rescue, sebuah wadah relawan yang dibentuk untuk mengoptimalkan potensi para alumni pecinta alam dalam misi kemanusiaan, khususnya penanganan bencana dan operasi pencarian serta pertolongan (SAR).
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Workshop Kebencanaan dan Deklarasi FASTA Rescue yang digelar di Technopark Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta Timur, Minggu (18/10/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh para alumni pecinta alam, pelajar, serta masyarakat yang memiliki minat dalam kegiatan kerelawanan dan penanggulangan bencana.
Selain menjadi momentum deklarasi FASTA Rescue, kegiatan ini juga menghadirkan pelatihan dasar kebencanaan dan kegawatdaruratan untuk meningkatkan kesiapan sumber daya manusia sebelum terjun dalam situasi bencana yang sebenarnya.
Ketua FASTA Rescue, Rio Susanto, mengungkapkan bahwa pembentukan FASTA Rescue berangkat dari potensi besar yang dimiliki komunitas pecinta alam. Pengalaman dalam kegiatan alam bebas dinilai menjadi modal penting yang dapat dikembangkan untuk mendukung operasi kemanusiaan.
“Para anggota pecinta alam pada umumnya telah mengenal berbagai keterampilan dasar, seperti survival, navigasi, dan kemampuan menghadapi kondisi alam yang menantang. Namun, potensi tersebut perlu dihimpun dalam satu wadah yang memiliki orientasi lebih luas, yakni kepedulian terhadap sesama manusia,” ujar Rio, Minggu (18/10/2026). .
Ia menegaskan, FASTA Rescue dibentuk untuk mengembangkan potensi yang telah dimiliki komunitas pecinta alam agar dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
“Anak-anak pecinta alam rata-rata sudah memiliki kemampuan dalam survival, navigasi, dan berbagai keterampilan lainnya. Yang ingin kami tekankan adalah bagaimana kepedulian terhadap sesama manusia itu bisa dihimpun dan dikoordinasikan dalam satu wadah, yaitu rescue,” kata Rio.
Melalui wadah ini kata Rio, keterampilan yang selama ini banyak digunakan dalam kegiatan alam bebas diharapkan dapat diarahkan untuk membantu masyarakat yang menghadapi situasi darurat maupun bencana.
Sementara itu, Sekretaris Umum FASTA DKI, Rasenja, mengatakan bahwa workshop tersebut ditujukan bagi para alumni pecinta alam dan masyarakat, terutama mereka yang ingin berkontribusi sebagai relawan kemanusiaan.
Menurutnya, pembekalan dasar SAR menjadi hal penting agar para relawan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai ketika terlibat dalam operasi penanganan bencana.
“Workshop ini kami buat untuk para alumni pecinta alam dan masyarakat, khususnya relawan, agar mereka mendapatkan dasar-dasar SAR. Ke depannya, kami berharap bisa bekerja bersama dalam kegiatan kerelawanan ketika terjadi bencana,” ujar Rasenja.
Adapun peserta juga mendapatkan materi keterampilan penyelamatan dan teknis Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) yang disampaikan oleh dr. M. Iqbal El Mubarak, seorang pakar medis alam bebas. Sementara itu, Rumah Zakat memberikan materi mengenai dukungan psikososial bagi penyintas bencana.
Rangkaian materi tersebut dirancang untuk memberikan bekal awal kepada para peserta, mulai dari pemahaman mengenai sistem penanganan bencana, keterampilan pertolongan, hingga pentingnya memperhatikan kondisi psikologis masyarakat terdampak.
Dengan pembekalan lintas bidang ini, para calon relawan diharapkan tidak hanya memiliki keberanian untuk membantu, tetapi juga memahami prosedur, etika, keselamatan, dan koordinasi dalam menjalankan misi kemanusiaan.
