INDOPOS-JAKARTA — Pemilihan Abang dan None Jakarta dinilai perlu tetap berpijak pada akar budaya dan nilai-nilai masyarakat Betawi sebagai identitas asli Jakarta.
Wakil Ketua Dewan Adat Betawi, H. Zainudin, SE, yang akrab disapa Bang Oding, menegaskan bahwa budaya Betawi memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai Islam yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Betawi sejak dahulu.
“Betawi Islam. Budayanya bernafaskan Islam. Itulah sebabnya kaum Betawi merupakan pemeluk Islam yang taat. Begitu pula adat istiadatnya mengikuti dan tidak bertentangan dengan syariat Islam,” ujar Zainudin.
Menurutnya, nilai-nilai keislaman dalam budaya Betawi tidak berarti masyarakat Betawi menutup diri terhadap keberagaman. Sebaliknya, masyarakat Betawi sejak lama dikenal hidup berdampingan dengan berbagai kelompok masyarakat di Jakarta.
“Sebagai kaum yang menjalankan syariat Islam, maka Betawi menghargai dan menghormati pemeluk agama lain sebagai saudara sebangsa dan setanah air,” katanya.
Ia menambahkan, karakter masyarakat Betawi yang egaliter menjadi salah satu modal penting dalam membangun kehidupan sosial di Jakarta yang majemuk.
“Sebagai kaum yang egaliter, orang Betawi hidup berdampingan dengan mesra kepada sesama anak bangsa dalam membangun Jakarta,” tutur Zainudin.
Namun, menurut dia, sikap terbuka terhadap keberagaman tidak boleh menghilangkan identitas dan akar budaya masyarakat Betawi. Terlebih, masyarakat Betawi kini telah dikukuhkan sebagai masyarakat adat.
“Sebagai masyarakat adat, apalagi baru saja dikukuhkan, maka menjadi kewajiban kita untuk menjaga dan mempertahankan akar budaya Betawi yang Islami,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, Zainudin menilai ajang Pemilihan Abang dan None Jakarta memiliki posisi penting karena sejak awal keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari identitas budaya Betawi dan Jakarta.
Ia berpandangan, penyelenggaraan Abang dan None Jakarta perlu mencerminkan karakter, adat istiadat, nilai budaya, serta kearifan lokal Betawi.
“Dengan demikian, maka Abang None Jakarta merupakan milik dan identitas masyarakat adat orang Betawi yang harus kita pertahankan,” ujarnya.
Zainudin berharap seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Abang dan None Jakarta dapat memberikan ruang yang kuat bagi pelestarian identitas budaya Betawi. Menurutnya, modernisasi Jakarta sebagai kota global tetap harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga akar budaya masyarakat asli Jakarta.
Ia menekankan bahwa mempertahankan identitas budaya Betawi bukan berarti menafikan keberagaman masyarakat Jakarta, melainkan memastikan bahwa kemajuan kota tetap memiliki akar sejarah dan kebudayaan yang jelas.
“Budaya Betawi harus tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan Jakarta,” pungkasnya.
