INDOPOS–Kasus praktik premanisme kembali diduga terjadi di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, dengan menyasar para pengemudi bajaj. Berdasarkan kesaksian dari salah satu sopir, para pelaku meminta uang “setoran” yang bisa mencapai Rp100.000 kepada setiap pengemudi.
Menurut keterangan yang diperoleh, jika sopir menolak membayar, mereka diancam akan dipukul atau ditonjok. Selain ancaman fisik, para pelaku juga diketahui menggunakan taktik intimidasi lain, seperti meneriaki korban seolah-olah mereka adalah pencuri (maling) di depan umum, hingga merusak kendaraan bajaj milik korban.
“Saya bukan tak melawan, tapi saya tiap hari nyari makan di sini. Mereka suka rese dan main keroyok, punya banyak teman, jadi kami takut jika menolak atau melawan,” ujar salah satu sopir bajaj yang menjadi korban, yang memilih untuk tidak disebutkan identitasnya demi keamanan.
Para sopir mengakui bahwa mereka sulit menolak tuntutan tersebut karena takut menjadi sasaran kekerasan beramai-ramai. Padahal, uang yang diminta dinilai sangat memberatkan pendapatan harian mereka sebagai tulang punggung keluarga.
Warga dan para pekerja berharap aparat penegak hukum dapat segera menindak tegas kelompok tersebut dan memberikan perlindungan yang nyata, sehingga warga dapat beraktivitas dengan aman tanpa rasa tertekan maupun takut.
Berita ini disusun berdasarkan informasi dari media sosial dan kesaksian warga. Kami akan terus memantau perkembangan informasi dari pihak berwenang.
