INDOPOS-Badan Otonom Mpok None Dewan Adat Bamus Betawi resmi dikukuhkan sebagai kepengurusan baru untuk periode 2026–2031. Pengukuhan ini diharapkan menjadi momentum bagi perempuan Betawi untuk semakin berperan aktif, berkarya, serta memberikan kontribusi nyata dalam berbagai bidang kehidupan.
Ketua Umum Dewan Adat Bamus Betawi, Eki Pitung, menyampaikan harapannya kepada Mpok Aisyah (Trysia Suherman) yang baru dipercaya mengemban amanah dalam kepengurusan tersebut.
Menurutnya, Mpok None memiliki potensi besar karena di dalamnya bergabung perempuan Betawi dari berbagai latar belakang profesi dan keahlian. Mulai dari mantan Abang None Jakarta, pengusaha, politisi, hingga para penggiat busana, pelaku UMKM, dan berbagai bidang lainnya.
Keberagaman latar belakang tersebut diharapkan menjadi kekuatan untuk mendorong kemajuan perempuan Betawi agar semakin berkembang, mandiri, kreatif, dan mampu bersaing di berbagai sektor.
Eki Pitung menjelaskan, salah satu alasan penting dibentuknya badan otonom Mpok None adalah untuk mengubah stigma lama yang selama ini melekat pada perempuan Betawi.
“Selama ini ada istilah yang tidak asing di masyarakat, bahwa perempuan Betawi tidak jauh dari kasur, sumur, dan dapur. Anggapan seperti ini harus kita ubah. Di era emansipasi wanita dan kesetaraan gender, sudah saatnya derajat dan peran perempuan Betawi semakin diangkat agar lebih maju dan profesional dalam menghadapi perkembangan zaman,” ujar Eki Pitung dalam sambutannya pada acara pelantikan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kemajuan perempuan Betawi harus tetap berpijak pada nilai-nilai agama dan budaya.
Menurutnya, perempuan Betawi harus mampu tampil sebagai sosok yang berpendidikan, profesional, mandiri, serta berdaya saing, tanpa meninggalkan akhlakul karimah dan karakter religius yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Betawi.
Dalam kesempatan tersebut, Eki Pitung juga membacakan Surat Keputusan (SK) kepengurusan Mpok None periode 2026–2031 sekaligus menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pengurus yang telah dikukuhkan.
Ia berharap keberadaan Mpok None Dewan Adat Bamus Betawi dapat memberikan manfaat nyata, khususnya dalam meningkatkan kualitas, kapasitas, dan peran perempuan Betawi di tengah masyarakat.
Eki Pitung turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Menteri Kebudayaan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta para dekan dan rektor Universitas Indonesia, khususnya Fakultas Ilmu Budaya (FIB), yang telah memberikan dukungan dan berkolaborasi sehingga kegiatan tersebut dapat terselenggara dengan baik dan lancar.
Diskusi 500 Tahun Jakarta: Saatnya Betawi Mendapat Perhatian Konkret
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang menghadirkan perwakilan Kementerian Kebudayaan, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, serta unsur pimpinan dan akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Diskusi berlangsung antusias dengan membahas berbagai gagasan, tantangan, dan strategi mengenai peran serta masa depan masyarakat Betawi dalam menyongsong peringatan 500 tahun Kota Jakarta pada 2027 mendatang.
Dengan perjalanan sejarah Jakarta yang dimulai pada 1527, momentum menuju lima abad Jakarta dinilai harus menjadi kesempatan penting untuk memperkuat eksistensi masyarakat dan kebudayaan Betawi.
Sebagai salah satu pembicara utama, Eki Pitung menegaskan bahwa perhatian pemerintah terhadap masyarakat Betawi tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial maupun pelestarian budaya semata.
Ia menginginkan adanya keseriusan dan langkah konkret dari pemerintah pusat untuk memberikan sesuatu yang berkelanjutan bagi masyarakat Betawi, terutama melalui penguatan landasan konstitusional dan kebijakan yang berpihak pada kemajuan masyarakat adat Betawi.
Menurut Eki, dukungan tersebut perlu diwujudkan dalam kebijakan yang mampu mendorong kemajuan Betawi secara menyeluruh, baik dalam aspek kebudayaan, sosial, politik, maupun ekonomi.
“Betawi membutuhkan perhatian yang serius dan konkret dari pemerintah pusat. Kami berharap momentum 500 tahun Jakarta menjadi kesempatan untuk menghadirkan kebijakan yang benar-benar memberikan manfaat dan menjadi hadiah berharga bagi masyarakat Betawi, khususnya dalam memperkuat kemajuan budaya, sosial, politik, dan ekonomi,” tegasnya.
Ia berharap pengukuhan Mpok None Dewan Adat Bamus Betawi periode 2026–2031 tidak hanya menjadi pergantian kepengurusan, tetapi juga menjadi awal gerakan nyata dalam membangun perempuan Betawi yang lebih maju, berdaya, profesional, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama serta adat istiadat.
Dengan demikian, perempuan Betawi diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya sekaligus mengambil peran strategis dalam menentukan masa depan masyarakat Betawi menyongsong 500 tahun Jakarta.
