INDOPOS-Ketua Seniman Intelektual Betawi (SIB) yang juga Sekretaris Jenderal Bamus Betawi, Tahyudin Aditya, menyatakan dukungan terhadap langkah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang melarang penggunaan ondel-ondel sebagai media mengamen. Menurutnya, kebijakan itu sejalan dengan nilai historis budaya Betawi.
“Prinsipnya kami setuju ondel-ondel jangan dipakai ngamen. Berdasarkan sejarah, ondel-ondel itu berkeliling kampung untuk menjaga kampung dari ancaman negatif dan wabah penyakit, bukan untuk mencari uang di jalanan,” ujar Tahyudin.
Namun, Tahyudin mengingatkan bahwa kebijakan ini tidak boleh mengabaikan nasib ratusan pengamen ondel-ondel yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas tersebut. Ia meminta Pemprov DKI menyiapkan solusi transisi alih profesi, termasuk program pendampingan dan pelatihan keterampilan.
SIB, kata dia, siap terlibat langsung dalam memberikan life skill atau keterampilan hidup, seperti handicraft, hingga budidaya ikan hias, agar para mantan pengamen bisa mendapatkan mata pencaharian baru.
Selain alih profesi, Tahyudin mendorong Pemprov DKI menetapkan arak-arakan ondel-ondel sebagai agenda rutin di berbagai destinasi wisata seperti Kota Tua dan Setu Babakan, sehingga pakem sejarah ondel-ondel sebagai penjaga kampung tetap lestari.
“Kalau memang tidak boleh ngamen, pemda harus memberi intensif dan honor kepada pelaku seni. Wajib setiap hari ada ondel-ondel keliling dengan pakem yang benar, menggunakan media dan musik yang sesuai tradisi,” tegasnya.
SIB, lanjut Tahyudin, siap bersinergi dengan Pemprov untuk memastikan para pelaku seni tidak kehilangan mata pencaharian sekaligus menjaga kelestarian budaya Betawi. (***)
